Tak Pernah Panggil Ibu, Ressa Sebut Denada 'Mbak' Sejak SMP
Ressa mengaku tidak pernah memanggil Denada sebagai ibu, melainkan hanya dengan sebutan “mbak”.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ressa kembali mengungkap kisah emosional tentang hubungannya dengan Denada yang selama ini dipendam. Sejak mengetahui fakta bahwa Denada adalah ibu kandungnya ketika masih duduk di bangku SMP, Ressa mengaku tidak pernah memanggil Denada sebagai ibu, melainkan hanya dengan sebutan “mbak”.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Denny Sumargo, Ressa menyebut sebutan tersebut bukan pilihannya sendiri. Ia diarahkan untuk menjaga jarak secara emosional, meski sejak awal sebenarnya telah menyimpan keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
Ressa mengaku kebingungan mencari cara untuk menyampaikan perasaannya. Keinginan akan pengakuan itu sudah ada sejak lama, namun rasa takut dan posisi yang serba salah membuatnya memilih diam.
Perasaan terluka semakin dalam ketika Ressa melihat perbedaan perlakuan antara dirinya dan Aisha. Ia menegaskan bahwa perasaannya bukan didasari rasa iri, melainkan kesadaran bahwa posisi mereka memang tidak pernah setara.
Dengan suara bergetar, Ressa mengungkapkan perasaan seolah ditinggalkan. Ia mempertanyakan mengapa dirinya justru merasa “dibuang”, sementara sosok lain mendapatkan perhatian dan perlindungan penuh.
Di balik luka tersebut, Ressa mengaku memiliki niat tulus. Jika suatu hari diakui sebagai anak kandung, ia ingin turut berperan merawat Aisha. Bagi Ressa, Aisha tetaplah adiknya, dan sebagai kakak, ia merasa seharusnya bisa hadir, terutama di masa-masa sulit ketika Aisha sakit.
Ressa kembali menegaskan bahwa kemunculannya ke publik di usia 24 tahun bukan untuk menuntut materi. Ia menegaskan mampu bekerja dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Yang ia cari hanyalah ketenangan batin dari sebuah pengakuan yang hingga kini belum ia dapatkan.
Menurut Ressa, penantian panjang tanpa pengakuan itulah yang menjadi beban terberat dalam hidupnya. Ia berharap, suatu hari, luka yang ia pendam sejak remaja dapat menemukan jawaban.
Editor : Firda Rachmawati

