Tari Campernik Asal Cimahi, Bukan Ritual Sakral tapi Penghormatan dan Amitan

Tari Campernik memiliki makna tersirat yang berkaitan erat dengan Kota Cimahi

Tari Campernik Asal Cimahi, Bukan Ritual Sakral tapi Penghormatan dan Amitan
Tari Campernik memiliki makna tersirat yang berkaitan erat dengan Kota Cimahi

INILAHKORAN, Cimahi - Terlahir dari kolaborasi sanggar tari di bawah binaan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), tari Campernik resmi tampil dalam kegiatan 'Karyaan Agustusan Rampak tari Campernik' sebagai rangkaian peringatan HUT ke-80 RI.

Setidaknya sebanyak 800 penari dari berbagai sanggar di Kota Cimahi terlibat dalam perhelatan acara yang dipusatkan di kawasan Alun-alun Cimahi pada Minggu 24 Agustus 2025.

Namun dibalik keindahan setiap gerakan dan penampilannya, tari Campernik memiliki makna tersirat yang berkaitan erat dengan Kota Cimahi

"Acara ini diawali dengan tarian pembuka yang bersifat simbolis, sebagai bentuk doa dan permohonan kelancaran kegiatan," kata Ketua Panitia Karyaan Agustusan Rampak tari Campernik, Ganda.

Ganda menjelaskan, tarian pembuka tersebut bukan bagian dari ritual yang sakral, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan amitan. 

"Kita cipta lagunya, gerakannya, dan sebelum memulai, tadi saya juga sempat pamit dengan ucapan ‘bismillah’. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” jelasnya.

Dikatakan Ganda, tarian pembuka tersebut merupakan persembahan dari para pelatih tari, yang bertanggung jawab penuh atas koreografi dan pelatihan kepada anak-anak penari.

“Jadi, yang membuat dan melatih ini semua adalah para pelatih. Maka mereka pula yang bertanggung jawab atas keberhasilan penampilan anak-anak. Ini karya mereka yang dipersembahkan dengan sepenuh hati,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ganda menerangkan, tari Campernik sendiri menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Sebab, tarian ini menggambarkan identitas dan kekayaan Kota Cimahi sebagai kota yang artistik dan berbudaya.

Campernik itu menggambarkan Cimahi sebagai kota kecil yang indah, kaya akan budaya, industri, pendidikan, bahkan militer," terangnya. 

"Ada kampung adat Cireundeu, instansi militer, sekolah dari TK sampai perguruan tinggi. Semua itu kami tuangkan dalam tari Campernik,” sebutnya.

Ganda pun berharap, kegiatan seperti ini terus berlanjut dan mendapatkan dukungan lebih besar dari pemerintah kota. Bahkan, dengan acara yang lebih meriah.

"Kita akan terus berkarya tanpa meninggalkan tradisi. Sampai sekarang ini kami masih mengandalkan anggaran swadaya dari masing-masing sanggar, dan bersyukur disupport juga oleh Disbudparpora dan DKKC," imbuhnya. 

"Tapi kami berharap ke depannya ada fasilitasi lebih dari pemerintah kota, terutama dalam hal perizinan dan teknis acara, supaya kita tinggal tampil saja,” pungkasnya. ***


Editor : Bsafaat