Tren Kirim Parsel di Cimahi Menurun, Ini Kata Disdagkoperin
Didagkoperin Kota CImahi membeberkan alasan tren penghiriman parsel saat hari Raya Idulfitri menurun karena beberapa faktor
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Tradisi saling berkirim parsel yang selama ini identik dengan merayakan Lebaran Idulfitri kini menunjukkan tren penurunan di Kota Cimahi.
Fenomena ini tercermin dari semakin berkurangnya jumlah penjual parsel yang berjualan menjelang Hari Raya Idulfitri 1446 H/2026 Masehi ini, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Indra Bagjana menjelaskan, kondisi ini mencerminkan pergeseran pola kebiasaan masyarakat dalam mengekspresikan kebahagiaan dan penghormatan pada momen hari raya.
"Dulu, sepanjang Jalan Jenderal Amir Mahmud menjelang Lebaran selalu ramai dengan penjual parsel. Sekarang makin tidak ada," kata Indra, Senin 16 Maret 2026.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ungkap Indra, kondisi tersebut bukan hanya asumsi semata. Ia mengaku telah menyusuri jalur nasional yang melintasi Cimahi yang dulunya dikenal sebagai salah satu titik padat penjualan parsel menjelang Lebaran.
"Jadi saya menemukan hanya tersisa tiga pedagang yang masih menawarkan paket bingkisan hari raya. Kondisi ini sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika deretan pedagang parsel mudah ditemukan di sepanjang jalan utama kota," jelasnya.
Menurutnya, penurunan jumlah pedagang parsel tidak hanya disebabkan oleh faktor daya beli masyarakat, namun lebih sebagai indikasi perubahan cara memberikan hadiah.
"Saya pikir ini hanya karena pergeseran kebiasaan masyarakat. Dulu biasa mengirim parsel, sekarang beralih ke bentuk lain seperti logam mulia," jelasnya.
Lebih lanjut Indra menerangkan, perubahan preferensi tersebut membuat bentuk pemberian hadiah saat hari raya menjadi lebih beragam.
"Jika sebelumnya parsel berisi makanan atau kebutuhan rumah tangga menjadi pilihan utama, kini sebagian masyarakat lebih memilih hadiah yang dianggap lebih praktis atau bernilai investasi," terangnya.
Meski trennya menurun, lanjut Indra, Disdagkoperin Kota Cimahi tetap memberikan perhatian terhadap peredaran parsel yang masih dijual di toko maupun ritel modern.
Ia menegaskan, pengawasan terus dilakukan untuk memastikan produk yang dijual memenuhi ketentuan, terutama terkait transparansi informasi produk.
"Aturan utamanya, konsumen harus bisa melihat informasi apa saja yang ada di dalam parsel dan kapan tanggal kedaluwarsanya hanya dari bagian luar kemasan," tegasnya.
Indra memaparkan, informasi yang harus dicantumkan meliputi nama produk, jenis barang, dan tanggal kedaluwarsa setiap item di dalam paket.
Menurutnya, hal ini penting untuk melindungi konsumen dari potensi kerugian akibat minimnya informasi produk.
"Informasi tersebut wajib ditempelkan agar pembeli tidak tertipu dan dirugikan," tambahnya.
Sejauh ini, pihaknya belum menerima laporan atau pengaduan terkait masalah parsel. Namun, langkah antisipatif tetap dilakukan melalui pemantauan rutin di lapangan bersama unsur terkait seperti satuan tugas pengawasan, TNI, dan Polri.
"Kalau ada keluhan, bisa langsung melaporkan ke Bidang Perdagangan. Jangan ragu karena ini termasuk tindak pidana ekonomi," katanya.
Dalam pengecekan terakhirnya, Indra juga meninjau parsel yang dijual di salah satu ritel modern dan memberikan apresiasi karena produk tersebut telah memenuhi ketentuan yang disyaratkan.
"Ada salah satu parsel yang kami lihat dari Superindo, semua ada keterangan daftar barang dan masa kadaluarsanya," pungkasnya.***
Editor : Ahmad Sayuti

