Tujuh Titik Sungai Dikeruk Tanpa Anggaran Khusus

Sedikitnya tujuh titik yang termasuk daerah aliran sungai (DAS) Cisanggarung di Kabupaten Cirebon bakal dikeruk. Diklaim hanya andalkan gotong royong, tanpa pengalokasian anggaran.

Tujuh Titik Sungai Dikeruk Tanpa Anggaran Khusus

INILAH, Cirebon – Sedikitnya tujuh titik yang termasuk daerah aliran sungai (DAS) Cisanggarung di Kabupaten Cirebon bakal dikeruk. Diklaim hanya andalkan gotong royong, tanpa pengalokasian anggaran.

 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon Dadang Suhendra mengungkapkan, pengerukan akan dilakukan di tujuh anak sungai yang berada di tiga kecamatan di bagian timur Kabupaten Cirebon. Langkah itu dilakukan guna mengurangi resiko banjir kala musim penghujan seperti sekarang.

 

"Tujuh titik itu ada di Kecamatan Ciledug, Waled, dan Pasaleman," ujar Dadang seusai apel Kesiapsiagaan Pasukan TRC Siaga Bencana di GOR Ranggajati, Kabupaten Cirebon, Senin (26/11/2018).

 

Pada Februari-Maret, ketika intensitas hujan meninggi, kawasan di tiga kecamatan itu kerap direndam banjir akibat meluapnya Sungai Cisanggarung. Problematika Sungai Cisanggarung sendiri di antaranya meliputi sedimentasi tinggi, sampah, hingga penyempitan aliran sungai.

 

Pengerukan dilakukan untuk menghilangkan sumbatan sedimentasi, termasuk memperlebar tikungan sungai. Selain pengerukan sungai, rencananya dilakukan pula perbaikan tanggul yang rusak.

 

Dadang menyatakan, upaya mengurangi resiko banjir itu akan dilakukan tanpa pengalokasian anggaran khusus. Seluruhnya dikerjakan dengan mengandalkan kerjasama antara Pemkab Cirebon bersama masyarakat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung.

 

"Kami tidak pakai anggaran. Pemda (Pemkab Cirebon) siapkan alat berat, masyarakat siap kerja bersama BBWS," cetusnya.

 

Kegiatan ini diagendakan berjalan selama sembilan hari, dimulai Rabu (28/11) ini. Selain itu, upaya laun meminimalisir resiko bencana dilakukan dengan memasang plang petunjuk jalur evakuasi dan kebencanaan hingga mengedukasi masyarakat mengenai mitigasi bencana.

 

Dalam kesempatan itu dia membeberkan, Kabupaten Cirebon menduduki urutan ketujuh di Jabar dan ke-107 secara nasional sebagai daerah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi. "Itu bisa naik atau turun. Makanya, kami kurangi resiko bahaya bencana dengan kesiapsiagaan," tegasnya.

 

Sementara, Kepala BPBD Provinsi Jawa Barat sekaligus Penjabat Bupati Cirebon, Dicky Saromi menyatakan, pengerukan di tujuh titik yang berada di tiga kecamatan itu berkonsep gotong royong. Tanpa anggaran khusus, dia menyebut upaya itu sebagai bentuk kepedulian bersama.

 

"Kalau pakai anggaran, harus menunggu tahun depan. Ini kepedulian bersama saja, dengan cara gotong royong," katanya.

 

Dia mengakui, Kabupaten Cirebon termasuk daerah dengan tingkat rawan bencana tinggi, khususnys banjir dan longsor. Banjir terutama terjadi di daerah-daerah hilir.

 

"Resiko bencana tinggi karena karakteristik dasarnya. Di sini ada 13 aliran sungai, ada dataran tinggi sampai rendah yang rawan longsor," tuturnya.

 

Dalam kesempatan itu, Dicky menyebutkan, saat ini secara umum Jabar berada pada tahap siaga darurat bencana. Tahapan ini resmi berlaku secara umum di Jabar sejak 1 November 2018 hingga 31 Mei 2019.

 

"Kesiapsiagaan ini agar kita mampu mengurangi resiko bencana dengan persiapan dan mobilisasi sumber daya manusia, peralatan, dan sebagainya, bila potensi bencana timbul," paparnya.

 

Selain tahap siaga, kedaruratan bencana meliputi pula tahap tanggap dan masa transisi. Dicky pun mengimbau warga melakukan antisipasi dini.


Editor : inilahkoran