INILAH, Bandung - Seiring kemajuan zaman, teknologi bisa memudahkan sekaligus menjadi tantangan untuk para pelaku usaha yang bergerak di bidang tata rias pengantin. Beradaptasi pada digitalisasi mau tak mau harus dilakukan agar bisa unggul dalam persaingan bisnis.
Memang, dewasa ini masyarakat bisa dengan mudah mempelajari rias pengantin lewat internet. Cukup banyak tutorial menghias wajah memenuhi situs berbagi video seperti youtube. Karena itu, para pengusaha tata rias pengantin wajib melek teknologi, baik itu IT dan digital marketing untuk mempromosikan usahanya.
"Sehingga bisa mempromosikan produk dan keterampilan mereka ke masyarakat," jelas Nisha Rinjani Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Nuning di sela acara Reuni dan Anniversari LKP Nuning ke-30 di Hotel Aston Pasteur Bandung, Rabu (14/11/2018) Malam.
Dia mengatakan, kian hari persaingan usaha di tata rias pengantin cukup ketat. Terlebih sudah berlakunya perdagangan bebas MEA yang memungkinkan persaingan dengan pengusaha asing. Karena itu, tambah Nisha, pemahaman terhadap digital marketing sangatlah penting.
"Inikan era MEA, persaingan cukup ketat, sehingga para pengusaha tata rias pengantin pun harus lebih melek IT," katanya.
Agar bisa bersaing dengan kompetitor lainnya, pengusaha tata rias pengantin pun harus memiliki sertifikasi. Dengan mengikuti berbagai kompetensi yang dapat mendorog pengembangan usaha.
"Kebetulan LKP Nuning juga merupakan TUK atau Tempat Uji kompetensi tata rias pengantin di Cimahi. Jadi LKP mana pun di Cimahi tempat uji kompetensinya di LKP Nuning. Jadi kita memang terdiri dari lembaga sertifikasi kompetensi bidang tata rias pengantin," paparnya.
Menurutnya usaha di bidang tata rias pengantin menjadi tren saat ini. Dari anak kecil hingga nenek-nenek pun bergabung dengan LKP Nuning. Bahkan, lanjut dia, usaha tersebut cukup menjanjikan dan tidak terlalu rumit. LKP Nuning sendiri, kata Nisha, memberikan pembelajaran yang cukup baik dipahami peserta didik.
"Kita konsen pada tata rias tradisional, jadi perserta kursus tidak hanya dituntut untuk bisa make up doang, tapi dituntut harus tahu nilai nilai tradisional itu seperti apa, seperti pengantin Sunda, pengantin Tasik, pengantin Ciamis, pengantin Cirebon dan lainnya," pungkasnya.