Usai Dikepung Banjir Monsun, Korsel Kini Siaga Darurat Gelombang Panas Ekstrem

Korea Selatan meningkatkan status siaga panas ekstrem dari waspada menjadi peringatan

Usai Dikepung Banjir Monsun, Korsel Kini Siaga Darurat Gelombang Panas Ekstrem
Ilustrasi cuaca panas ekstrem

INILAHKORAN. ID - Setelah sempat diterjang banjir besar, Korea Selatan kini harus menghadapi ancaman cuaca ekstrem lainnya. Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel resmi menaikkan status siaga bencana cuaca panas dari tingkat waspada menjadi peringatan di separuh wilayah negara tersebut, Jumat.

Langkah darurat ini diambil menyusul prediksi cuaca panas menyengat yang diperkirakan akan bertahan sepanjang akhir pekan.

"Hingga pukul 15.00 waktu setempat, tingkat siaga bencana terkait cuaca panas telah dinaikkan menjadi 'peringatan' (warning)," tulis pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel, seperti dikutip dari Antara, Selasa (14/7/2026).

Pemberlakuan status 'peringatan' ini mencakup 116 dari total 235 zona peringatan khusus di seluruh negeri. 

Badan Meteorologi Korea memperkirakan suhu tertinggi pada siang hari dapat melonjak hingga 37°C sepanjang akhir pekan ini, sementara wilayah bagian selatan akan mengalami suhu di kisaran 35°C.

Mengingat risiko sengatan panas yang meningkat tajam, kementerian tersebut telah menginstruksikan jajarannya untuk memperketat pemantauan dan langkah pencegahan bagi kelompok rentan seperti lansia, pekerja pertanian, dan buruh lapangan yang beraktivitas di luar ruangan.

Patroli di area terbuka dan lahan persawahan akan diintensifkan, bersamaan dengan langkah antisipasi untuk mencegah kerusakan pada komoditas pertanian.

Sebelum gelombang panas tersebut datang, Korea Selatan sempat diterjang hujan monsun lebat pada Rabu dan Kamis yang merendam rumah-rumah warga serta fasilitas jalan hingga memicu evakuasi massal.

Berdasarkan data Yonhap hingga Jumat, sebanyak 758 orang di seluruh negeri telah dievakuasi, satu orang dilaporkan hilang, dan lebih dari 400 fasilitas infrastruktur mengalami kerusakan.


Editor : Ahmad Sayuti