Uu Harap Kasus Penganiayaan ART di KBB Tidak Terulang Kembali
akil Gubernur Provinsi Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menyayangkan dan berharap, kasus penganiayaan Asisten Rumah Tangga (ART) di Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat baru-baru ini tidak terulang kembali.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN , Bandung – Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat UU Ruzhanul Ulum menyayangkan dan berharap, kasus penganiayaan Asisten Rumah Tangga (ART) di Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat baru-baru ini tidak terulang kembali.
Pak Uu –sapaan Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, saat ini korban sudah mendapatkan perawatan intensif dan diperkirakan segera pulih dalam dua hari kedepan. Dia pun bersyukur, karena dengan kesigapan masyarakat setempat dan aparat kepolisian permasalahan dapat segera tertangani, sehingga korban bisa ditolong secara cepat.
Dia mengimbau kepada masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai, serta tidak berbuat semena-mena kendati terhadap bawahan. Sebab walau bagaimanapun kata Uu, masyarakat memiliki harkat dan martabat yang sama.
“Saya ditugaskan pak gubernur, untuk melihat pasien yang dikabarkan seperti itu adanya. Saya hanya menguatkan saja kepada pasien, supaya bersabar. Ini sudah sering kejadian seperti ini dan tidak terulang lagi di wilayah Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya, karena yang namanya manusia mohon maaf semiskin apapun, sekampungan apapun, tetap manusia. Punya rasa, yang harus kita hargai, kita hormati,” ujarnya usai membesuk korban di Rumah Sakit Sartika Asih, Selasa 1 November 2022.
“Jangan mentang-mentang dia orang kampung, dianiaya seperti itu. Jangan mentang-mentang dia bawahan, kemudian bersikap seperti itu. Menurut saya itu tidak baik. Alhamdulillah setelah lihat perkembangannya, menurut informasi dari dokter sehari, dua hari lagi bisa pulang. Saya mengucapkan terimakasih atas kesigapan aparat, pemerintah disana dan masyarakat. Sehingga tidak terjadi hal yang lebih parah lagi. Ulah kitu-kitu teuing atuh kepada orang lain teh,” imbuhnya.
Selain itu Pak Uu juga mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar, sehingga kejadian serupa dapat dicegah. Serta meminta untuk meningkatkan pemahaman akan agama, supaya dapat saling menghormati terhadap satu sama lain meski dalam status sosialnya berbeda.
“Saya berharap kepada masyarakat Jawa Barat, kalau ada kejadian di sekitar kita. Ini harus benar-benar peka, benar-benar respek. Karena menurut informasi kejadian dirumah itu bukan sekali ini, bahkan sering. Ini juga alhamdulillah, saya mengucapkan terimakasih. Harapan kami, tidak lagi apriory terhadap lingkungan. Kalau terjadi lagi hal yang tidak diinginkan, kita berusaha membantunya. Kepada masyarakat, janganlah buat aniaya pembantunya,” ucapnya.
“Kita harus bisa memberikan pengertian dan kesadaran kepada masyarakat, terutama kesadaran beragama karena Insya Allah dengan agama akan lebih terarah. Keimanan dan ketakwaan kita menjadi landasan untuk hormat pada siapapun, termasuk kepada pembantu rumah tangga,” sambungnya.
Dia menambahkan, tidak menutup kemungkinan akan dibuat suatu regulasi khusus bila kejadian serupa terulang, dalam menguatkan peraturan-peraturan yang sudah eksis pada saat ini. Dimana tujuannya agar tidak terjadi lagi insiden tindak kekerasana, di lingkungan masyarakat.
“Undang-undang sudah ada. Tapi tidak menutup kemungkinan, kalau kejadian terus-menerus marak. Ya ada sebuah struktur yang dibuat untuk menguatkan. Tapi harapan kami, untuk menyadarkan masyarakat jangan menunggu Perda. Sudah saja dengan Perda lama, sesuai hukumnya saja,” terangnya.
Pak Uu melanjutkan, selain bantuan pengobatan pihaknya juga akan mengupayakan mencari solusi agar korban kembali mendapatkan pekerjaan, dengan didukung oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat. Mengingat kondisi sosial korban menurutnya memang layak untuk dibantu lebih lanjut.
“Masalah berobat, kita bantu yang dari Pemprov Jawa Barat. Kemudian masalah pekerjaan, nanti kita bicarakan karena dia memang butuh pekerjaan. Dia seorang mohon maaf, ibu rumah tangga yang merangkap mencari nafkah karena sudah tidak punya suami dan punya anak satu. Nah ini juga harus dipikirkan, yang jelas sekarang sedang ditangani DP3AKB bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat,” tutupnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti
