Waduh, Jumlah Relawan Tagana Kabupaten Bogor Hanya 84 Orang

Jumlah relawan tanggap bencana (Tagana) yang hanya 84 orang masih jauh dari kata ideal jika dibanding dengan jumlah 435 desa dan kelurahan.

Waduh, Jumlah Relawan Tagana Kabupaten Bogor Hanya 84 Orang
Jumlah relawan tanggap bencana (Tagana) yang hanya 84 orang masih jauh dari kata ideal. (Reza Zurifwan)

INILAH, Bogor- Jumlah relawan tanggap bencana (Tagana) yang hanya 84 orang masih jauh dari kata ideal jika dibanding dengan jumlah 435 desa dan kelurahan.

Jumlah relawan Tagana ini kedepan secara bertahap akan ditambah karena Kabupaten Bogor dari 40 kecamatan, 27 diantaranya termasuk daerah rawan bencana bahkan saking rawannya Kabupaten Bogor masuk peringkat 5 besar daerah rawan bencana di Provinsi Jawa Barat.

"Jumlah relawan Tagana di Bulan Juli ini kami tambah 37 orang hingga nanti total jumlah relawan Tagana di Kabupaten Bogor ada 121 orang, junmlah ini masih belum ideal karena jumlah desa atau kelurahan mencapai 435," ujar Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor Rustandi kepada wartawan, Selasa (9/7).

Kabid Perlindungan Jaminan Sosial Budi Ariyanto menambahkan jumlah relawan Tagana ini sebenarnya ada 113 orang namun karena harus disesuaikan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat maka jumlahnya harus disesuaikan.

"Kalau jumlah relawan Tagana sebenarnya ada 113 orang namun karena anggaran 'kadeudeuh' dari Pemprov Jawa Barat cuma 84 orang maka jumlahnya kami sesuaikan, saat ini para relawan Tagana diberi uang kadeudeuh Rp 450 ribu yang terdiri dari Rp 250 ribu dari Pemprov Jawa Barat dan Rp 200 ribu dari Pemkab Bogor," tambah Ariyanto.

Kasie Perlindungan Sosial Korban Bencana Sri Mulyani menerangkan akibat minimnya jumlah relawan Tagana maka di sejumlah kecamatan tidak ada relawan yang terkenal tangguh dalam menanggulangi bencana dan pasca bencana.

"Kecamatan Nanggung, Parungpanjang, Leuwisadeng, Leuwiliang, Cibungbulang, Cigombong, Cijeruk, Caringin dan Tenjo tu tak ada sama sekali relawan Tagana  padahal itu termasuk kecamatan yang rawan bencana sepert8i gempa bumi, tanah longsor, banjir maupun kekeringan," terang Sri Mulyani.

Alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini menjelaskan selain kekurangan relawan Tagana, Kabupaten Bogor juga masih kekurangan logistik bantuan.

"Tahun 2019 ini ada 700 paket bantuan bencana yaitu beras, mie, kornet, sarden dab minyak goreng yang pencairannya terbagi setiap triwulan. Karena jumlah bantuan yang terbatas ini kami fokus memberikan bantuan untuk korban bencana yang rumahnya rusak berat," jelasnya.

Yani sapaan akrabnya melanjutkan akibat terbatasnya bantuan logistik, ia berharap perusahaan yang ada di Bumi Tegar Beriman aktif memberikan Corporate Social Responsobilitynya (CSR) ke warga korban bencana alam.

"Saat ini CSR dari perusahaan-perusahaan untuk korban bencana alam masih minim dan kedepan perlu kesadaran mereka untuk memberikan CSRnya tersebut kepada orang-orang yang tertimpa musibah," lanjut Yani. (Reza Zurifwan)


Editor : Bsafaat