Wakerman Mantarena Bertransaksi dan Antar Makanan Menggunakan Kerekan

Warung makan yang bernama Warung Kerek Mantarena (Wakerman) di Kampung Mantarena RW 2, Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah menyita perhatian masyarakat Bogor. Wakerman ini mengusung konsep unik dan baru di kota hujan.

Wakerman Mantarena Bertransaksi dan Antar Makanan Menggunakan Kerekan
Pantauan di lapangan, transaksi antara penjual dan pembeli di Wakerman, mulai proses pemesanan, pemberian uang, hingga pengantaran makanan dilakukan melalui ember yang terikat di tali kerekan. Ternyata konsep warung ini diinisiasi Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor yang tengah menggarap program penanganan kawasan kumuh di Mantarena, Paledang. (rizki mauludi)

INILAHKORAN, Bogor - Warung makan yang bernama Warung Kerek Mantarena (Wakerman) di Kampung Mantarena RW 2, Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah menyita perhatian masyarakat Bogor. Wakerman ini mengusung konsep unik dan baru di kota hujan.

Pantauan di lapangan, transaksi antara penjual dan pembeli di Wakerman, mulai proses pemesanan, pemberian uang, hingga pengantaran makanan dilakukan melalui ember yang terikat di tali kerekan. Ternyata konsep warung ini diinisiasi Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor yang tengah menggarap program penanganan kawasan kumuh di Mantarena, Paledang.

Kepala Disperumkim Kota Bogor Juniarti Estiningsih memaparkan, inovasi ini sengaja dicanangkan pihaknya untuk membereskan persoalan kotornya sungai sekaligus membangkitkan perekonomian masyarakat.

"Pada awalnya mereka jualannya membelakangi sungai. Akhirnya kami ubah posisinya supaya warga memiliki perhatian untuk menjaga Sungai Cibalok. Disamping itu, kami ingin menciptakan konsep baru yang unik agar menarik perhatian pengunjung," ungkap Esti, Minggu 25 Agustus 2024.

Esti membeberkan, konsep ini dipilih agar pembeli yang datang dari arah jalan raya tak perlu lagi berjalan jauh untuk membeli makanannya, mereka tinggal memanggil dan memesan makanannya dari sebrang sungai.

"Kami kemudian membangun jembatan kerekan yang menghubungkan antara warung dan spot pembeli. Jembatan ini dibangun menggunakan tiang, tali dan katrol sederhana," beber Esti.

Esti menjelaskan, Disperumkim juga membangun taman kecil di pinggir Sungai Cibalok yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pengunjung menikmati kuliner yang telah dibeli. Menu yang ditawarkan di warung ini cukup beragam. Pengunjung bisa menikmati cemilan, makanan ringan, hingga makanan berat. Misalnya cimol, martabak telur, ayam geprek, mie kangkung, gado-gado, nasi goreng, dan berbagai menu lainnya.

"Harga yang ditawarkan pun terbilang terjangkau. Makanan dan minuman di Wakerman dijual mulai dari harga Rp5 ribu hingga Rp20 ribu saja," jelasnya.

Sementara itu, Pemilik Wakerman Anggi Hilmawan berharap inovasi ini bisa membawa banyak rezeki bagi dirinya dan keluarganya. 

"Awalnya kami cuma menjual brownies. Kemudian ada inovasi seperti ini dari Disperumkim. Saya memandang ini sebagai momen yang harus dimanfaatkan. Apalagi bisnis kuliner sekarang mengandalkan sesuatu yang unik dan berbeda," ungkapnya.

Anggi juga berharap, kedepan senantiasa ada dukungan publikasi yang diberikan Pemkot Bogor sehingga bisa meningkatkan kunjungan ke Wakerman.

"Ya, mudah-mudahan bisa dibantu promosinya, kan di Kota Bogor masih jarang konsep seperti ini," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani