WIITEX 2026 Jadi Panggung Naik Kelas Produk Jabar, Pelaku Usaha Bidik Ekspor
Gelaran West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026 mendapat respons positif dari pelaku usaha kopi, teh, dan kakao.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gelaran West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) 2026 mendapat respons positif dari pelaku usaha kopi, teh, dan kakao.
Ajang yang berlangsung pada 12-14 Juni 2026 di Summarecon Mall Bandung itu dinilai bukan sekadar pameran dagang, melainkan ruang strategis untuk memperluas pasar ekspor, memperkuat jejaring bisnis, hingga meningkatkan daya saing produk unggulan Jawa Barat.
CEO Gravfarm Indonesia R Yugian Leonardy menilai, WIITEX memiliki karakter berbeda dibanding pameran pada umumnya karena mengedepankan proses kurasi terhadap peserta maupun produk yang ditampilkan.
"Untuk sebuah event WIITEX kita membutuhkan kapabilitas untuk kurasi. Siapa saja yang mengikuti, siapa saja yang akan mengisi kontennya dan siapa saja yang mengisi tenant-tenantnya harus applicable dan memang siap untuk dinaikan lagi," kata Yugian saat ditemui di sela WIITEX 2026, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, proses kurasi tersebut penting untuk memastikan setiap pelaku usaha yang terlibat memiliki kesiapan melakukan ekspansi bisnis, termasuk memasuki pasar ekspor.
"Artinya seperti sebuah event untuk scale up, apakah itu siap untuk export, apakah itu siap untuk masif produk atau tidak. Hal itu yang menjadikan WIITEX sekarang seolah-olah menjadi pemicu untuk semua mulai berkreasi ke arah yang lebih maju," ujarnya.
Dia menegaskan, orientasi utama WIITEX bukan transaksi sesaat seperti pameran dagang pada umumnya, melainkan peningkatan kapasitas usaha.
"Karena pameran itu kadang lebih bersikap berdagang. Kalau ini bukan berdagang, tapi kita scale up terhadap bisnis kita sendiri," ucapnya.
Dalam WIITEX 2026, Gravfarm membawa komoditas kopi specialty yang selama ini menjadi andalan. Namun tak hanya menawarkan produk, Gravfarm juga mempromosikan rencana pengembangan pusat edukasi kopi bertaraf internasional di Jawa Barat.
Yugian mengungkapkan, pihaknya tengah berkolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Coffee Quality Institute (CQI) untuk membangun pusat pendidikan kopi yang memiliki sertifikasi internasional.
"Itu untuk investasi di bidang studi atau akademis. Karena kita berkolaborasi bersama IPB dan bersama CQI untuk membuat sebuah tempat edukasi tentang kopi di Jawa Barat yang bersertifikasi internasional," katanya.
Dia menjelaskan, keunggulan Gravfarm terletak pada standar kualitas yang diterapkan sejak proses budidaya hingga pengolahan pascapanen. Menurutnya, kualitas kopi tidak ditentukan selera konsumen semata, melainkan standar sertifikasi yang ketat.
"Kopi itu dibagi tiga komoditasnya. Tiga itu berdasarkan sertifikasi, tidak bisa berdasarkan selera. Ada kopi speciality, kopi premium, ada kopi komersial," ujarnya.
Prestasi Gravfarm juga cukup panjang. Pada 2017, perusahaan tersebut mencatatkan rekor MURI melalui kopi honey process yang terjual Rp2 juta per kilogram dalam sebuah lelang. Selain itu, selama tiga tahun terakhir Gravfarm berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi green coffee.
"Nah itu bukanlah sebuah pencapaian. Tapi menjadi standar, apakah kita membuat sesuatu yang terbaik atau tidak," kata Yugian.
Saat ini Gravfarm mengelola kebun sendiri di sembilan lokasi, bermitra dengan petani melalui sistem plasma, serta menerapkan sistem kurasi terbuka terhadap hasil panen petani dari berbagai daerah.
Dari sisi pasar, sekitar 80 persen produk Gravfarm dikirim ke luar negeri dan 20 persen dipasarkan di dalam negeri.
"80 persen ekspor, 20 persen lokal. Yang langganan kita adalah Jepang, Korea, Jerman, Amerika, Kanada, Sweden dan sekarang Slovakia," ungkapnya.
Volume pengiriman kopi perusahaan mencapai 200 hingga 250 ton per tahun dengan dominasi produk specialty coffee berbasis Arabika.
Dukungan pemerintah terhadap komoditas teh juga mendapat apresiasi dari CEO Tsurayaatea, Sena Oktafianti. Menurutnya, selama ini teh kerap kalah populer dibanding kopi, padahal memiliki potensi besar untuk menembus pasar premium dunia.
"Kita bersyukur banget karena tiga komoditas ini akhirnya didukung pemerintah. Terlebih kita yang masih UMKM," ujar Sena.
Melalui WIITEX, Tsurayaatea menargetkan perluasan pasar business to business (B2B) sekaligus memperkuat penetrasi ekspor artisan tea yang saat ini telah menembus Eropa, Taiwan dan Jepang.
"Kalau untuk targetnya sebetulnya memang kita mau masuk ke B2B," katanya.
Tsurayaatea memproduksi teh artisan dari pucuk pertama hingga daun ketiga yang dipetik secara selektif. Untuk menjaga kualitas bahan baku, Tsurayaatea menggandeng petani melalui program pendampingan dari hulu hingga hilir.
"Kita bermitra dengan petani, kita mengajarkan petani untuk menghasilkan teh terbaik dari pucuk satu sampai daun ketiga," ujarnya.
Sementara itu, General Manager BRIIZ Chocolate, Yohanes Dimas Prabowo melihat WIITEX sebagai kesempatan untuk membuka pasar ekspor baru bagi produk cokelat berbasis kakao murni.
"Keterlibatan kita di WIITEX kali ini harapannya bisa mendapatkan buyer potensial untuk ekspor," kata Yohanes.
BRIIZ Chocolate saat ini bekerja sama dengan petani kakao di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi. Kapasitas produksi perusahaan mencapai 3 hingga 4 ton per bulan.
Produk mereka telah menembus pasar Korea Selatan dan dipasarkan melalui jaringan ritel modern serta supermarket.
Editor : Doni Ramdhani


