Wisata Masih Ramai saat Libur Nataru, Polisi Ingatkan Bahaya Pantai dan Sungai

Meski libur Nataru berakhir, polisi masih menyiagakan 15 ribu personel di Jawa Barat dan mengingatkan wisatawan soal keselamatan.

Wisata Masih Ramai saat Libur Nataru, Polisi Ingatkan Bahaya Pantai dan Sungai
Ilustrasi personel kepolisian.

INILAHKORAN.ID – Meski operasi pengamanan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) resmi berakhir, aktivitas kepolisian di Jawa Barat belum sepenuhnya selesai. 

Hingga awal pekan depan, ribuan personel masih berjaga di berbagai titik untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas masyarakat dan wisatawan.

Sekitar 15.000 personel gabungan dikerahkan Polda Jabar, terdiri atas anggota Polda dan Polres di wilayah Jawa Barat. Aparat kepolisian tetap melakukan pengamanan rutin, termasuk pengawasan di lokasi-lokasi rawan kepadatan dan kecelakaan.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyebut tidak ada penarikan personel meski masa operasi telah selesai. Evaluasi dan apel pengamanan masih dilakukan setiap hari untuk menyesuaikan kondisi lapangan.

“Pengamanan tetap berjalan sampai Senin. Semua personel masih siaga,” ujarnya.

Angka kecelakaan Selama Libur Nataru Menurun

Selain menjaga keamanan, polisi juga mencatat perkembangan dari sisi keselamatan lalu lintas. Selama libur akhir tahun ini, jumlah kecelakaan dan korban tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, kepolisian tetap memberi perhatian khusus pada kawasan wisata, terutama lokasi perairan seperti pantai, laut, dan sungai. Menurut Hendra, sejumlah kejadian kecelakaan menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan wisatawan.

Dia mengimbau masyarakat tidak mengabaikan rambu dan larangan keselamatan, termasuk tidak memaksakan diri masuk ke area perairan yang telah dinyatakan berbahaya.

“Jika cuaca berubah, mulai gelap atau hujan, segera menjauh dan mencari tempat aman,” katanya.

Polda Jawa Barat berharap wisatawan lebih disiplin dan menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama selama menghabiskan waktu libur, agar aktivitas wisata tetap berjalan tanpa menimbulkan risiko yang tidak diinginkan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur