20 Tahun Diurus, Lahan Tani Warga Desa Cangkorah Diambilalih Orang Lain
Petani di lahan tani warga Desa Cangkorah pasrah. Pasalnya, lahan pertanian yang digarapnya selama 20 tahun kini diambilalih orang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Adang (56), petani lahan tani warga Desa Cangkorah pasrah. Pasalnya, lahan pertanian yang digarapnya selama 20 tahun kini diambilalih orang lain.
Warga asal Seketando, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu pun terancam kehilangan mata pencahariannya. Di lahan tani warga Desa Cangkorah itu Adang menggantungkan nasib sebagai buruh tani.
Selama ini, Adang bertahan hidup dengan cara bertani menggarap lahan tidur di bantaran waduk Saguling milik PT Indonesia Power. Namun, baru-baru ini terdapat sejumlah patok di lahan tani warga Desa Cangkorah.
Baca Juga: Foto: Penanaman Bibit Pohon di Lahan Kritis KBU
Lahan yang digarap Adang berada di Desa Cimerang, Kecamatan Padalarang. Ia tak tahu persis bagaimana lahan tani warga Desa Cangkorah tersebut diperjualbelikan. Padahal lahan itu milik perusahaan pelat merah.
Adang mengungkapkan, dirinya hanya mengetahui lahan yang digarapnya kini dikuasai sejumlah orang kaya yang tinggal di perumahan mewah Kota Baru Parahyangan.
"Saya tiba-tiba harus menyingkir, katanya udah dibeli orang Kota Baru Parahyangan. Aneh juga masa lahan Indonesia Power diperjualbelikan," ungkapnya, Minggu 19 Desember 2021.
Baca Juga: Gelar Aksi Kepedulian Sosial, Sentul City Gandeng Mitra Pemanfatan Lahan
Dia menjelaskan, lahan tani warga Desa Cangkorah itu dulunya memang penuh semak belukar serta alang-alang hampir setinggi orang dewasa.
Dengan susah payah merawat lahan tersebut dengan cara mencabuti rumput liar serta mencangkul tanah agar gembur, dia dijanjikan diberi uang Rp2 juta oleh sang pembeli lahan.
"Puluhan tahun saya rawat lahan ini dan membersihkannya, tiba-tiba disuruh pergi dan dijanjikan uang Rp2 juta sebagai buruh ngored. Namun janji itu hingga kini juga belum ditepati," ujarnya.
Baca Juga: Ngencleng Buka Tutup Jalan di KBB Rawan Konflik, Jadi Arena Rebutan Lahan
Dia berharap, PT Indonesia Power lebih memperhatikan petani kecil daripada orang-orang kaya untuk pemanfaatan lahan tidur.
Apalagi, sambung dia, para petani telah menggarap sejak puluhan tahun dan menggantungkan pendapatan dari hasil tanah tersebut.
"Kalau bisa perhatikan petani kecil seperti kami. Jangan orang-orang kaya berduit. Bagi kami lahan ini sangat berarti besar," ujarnya.
Dari hasil penelusuran, puluhan hektare lahan PT Indonesia Power di Desa Cimerang, Kecamatan Padalarang diketahui telah diperjualbelikan. Lahan garapan itu dijual dengan harga fantastis antara Rp8-20 juta, tergantung dari luasnya. (Agus Satia Negara)
Editor : inilahkoran

