INILAH,Bandung- Sepanjang 2019 Perum Perhutani akan menanam tanaman keras (reboisasi) di lahan kritis dengan luas 3000 hektar. Sedangkan pada 2017-2018, Perum Perhutani telah menanam tanaman keras di area seluas 4000 hektar. Diharapkan, penanaman akan mendorong lahan menjadi hijau.
"Pada 2017 lalu sampai 2018 kami sudah menanam atau melakukan penghijauan di lahan hutan yang kritis seluas 4000 hektar. Penanganan lahan kritis. Tahun sekarang 3000 hektar di semua di wilayah KPH Bandung Selatan di kawasan hutan lindung," kata Administratur Perhutani, KPH Bandung Selatan, Tedy Sumarto, Kamis (7/3/2019).
Menurut Tedy, lahan yang dikelola Perhutani saat ini sebesar 55.480,07 hektar. Terdiri dari hutan produksi 7750,89 hektar, hutan produksi terbatas 3781,31 dan hutang lindung 43.947,87. Lahan-lahan tersebut menurutnya tersebar di 9 lokasi.
Dirinya mengatakan di Ciwidey sebanyak 4812 hektar, Pangalengan sebanyak 9200 hektar hutan lindung, Banjaran sebanyak 8039 hektar, Ciparay sebanyak 3843 hektar, Rajamandala sebanyak 2054 hektar, Cililin sebanyak 1850 hektar.
Selain itu, Gununghalu sebanyak 7639 hektar, Tambakruyung Barat sebanyak 7800 hektar dan Tambakruyung Timur sebanyak 10.059. "Hutan produksi mayoritas di Gununghalu jenis pohon pinus, jati. Kalau hutan lindung jenis pinus dan rimba campur," ujarnya.
Tedy menambahkan, penebangan yang dilakukan di hutan produksi selanjutnya harus ditanam kembali. Dengan menggunakan pohon yang sama atau tanaman endemik yang sesuai pada lokasi tersebut.
Menurutnya, pihaknya terus mendorong masyarakat ketika menanam sayuran harus diikuti dengan tanaman keras. Dengan rutin melakukan sosialisasi. Meski begitu, ia mengakui masih banyak perambahan hutan di wilayah lahan Perhutani.
Saat ini, menurutnya banyak petani yang sudah mulai sadar dan perlahan menanam tanaman keras seperti kopi. "Yang masuk ke (program) Citarum Harum total lahan kritis ada 8000 hektar terdiri dari hutan dan kebun milik PTPN, Perhutani dan lahan masyarakat," ujarnya.
Terkait dengan banjir bandang di Pangalengan beberapa waktu lalu, dirinya menegaskan hal itu bukan karena lahan di wilayah Perhutani yang kritis. Namun, penyebabnya terjadi sumbatan saluran dihilir dan saluran sungai yang kecil menyebabkan air meluap.
"Saya telusuri ke hulu anak sungai Cisangkuy. Di atas kondisinya normal karena lahan di kedua sungai tidak terkena dampak luapan. Logikanya kan kalau banjir itu terjadi dari atas pastinya kiri kanan sungai itu pasti ada bekas air dan lumpur, kalau ini bersih sama sekali tidak ada bekas apa apa," katanya.