Ada apa, Preman Ontrog Kantor Wali Kota Bandung?

INILAH, Bandung - Sembilan orang preman menggeruduk kantor wali kota Bandung, pada Kamis (3/1) siang. Ada apa?

Ada apa, Preman Ontrog Kantor Wali Kota Bandung?
Para preman pensiun saat mendatangi kantor Wali Kota Bandung

INILAH, Bandung - Sembilan orang preman menggeruduk kantor wali kota Bandung, pada Kamis (3/1) siang. Ada apa?

Ternyata, para preman meminta persetujuan dari Wali Kota Bandung, Oded Muhammad Danial untuk bergerilya ke setiap penjuru kota.

Preman yang menyatroni Oded tersebut merupakan para pemain film Preman Pensiun. Sembilan pemain dengan dikomandoi oleh Kang Muslihat ‎yang diperankan oleh Epy Kusnandar dan didampingi Aris Nugraha, sang sutradara sekaligus penulis cerita Preman Pensiun itu bermaksud untuk meminta ijin menyusuri kota guna mempromosikan film.

"Kita akan promo gerilya mulai sekarang sampai 8 Januari nanti, jadi kita pamit ijin ke wali kota kita akan jalan kaki ke Asia afrika jauh dikit pake angkot, kita ga bawa kendaraan, kita menemui masyarakat di Kota Bandung," kata Aris di Plaza Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kamis (3/1).

Aris mengatakan dalam kesempatan yang sama juga dia mengundang Oded untuk menonton langsung pada 12 Januari di bioskop. Selebihnya, meminta bantuan untuk ikut mempromosikan Preman Pensiun.

Dipaparkan Aris, gerilya ke sejumlah tempat ini menjadi salah satu strategi pemasaran film Preman Pensiun yang akan mulai tayang 17 Januari di seluruh bioskop.

"Kita pengen ketemu langsung sam apenonton, kalau foto boleh, kita ada stiker kasih. Lebih ke ikatan bathin ngajak langsung, ga kaya iklan di media tapi kaya tadi pagi kita ke pasar,‎" ujarnya.

Sekilas tentang sinopsis film Preman Pensiun ini, Aris mengatakan bahwa kondisi yang ditampilkan adalah situasi bertahun-tahun setelah para preman memutuskan untuk berhenti dari aktivitasnya. Hanya saja, beragam persoalan pelik membuat para preman ini justru kesulitan mengubah imej sebagai orang baik.

"Ini kelanjutan serial, 3 tahun setelah pensiun apa yang terjadi, ternyata ramalan Muslihat terbukti menjadi orang baik tidak mudah. Kan mau jadi orang baik susah, ternyata susah cari kerja, pandangan masyarakat tetap beda, anaknya ketika bergaul juga kan itu susah," bebernya.

Ketika ditanya apakah film berdurasi 90 menit itu akan menjadi penutup perjalanan Preman Pensiun, Aris mengungkapkan beragam kemungkinan bisa terjadi. Dia tidak bisa memprediksi apakah Preman Pensiun akan berakhir di film ini, atau kembali muncul film kedua atau justru tayang lagi menjadi serial televisi.

Aris menuturkan proses pembuatan film Preman Pensiun ini mengambil latar seratus persen di Kota Bandung. Sebelumnya, proses pengambilan gambar sudah dilakukan sejak April dengan memakan waktu 21 hari.

"Tergantung penonton, kalau ini bagus berarti penonton suka, kalau gitu apapun bisa terjadi perubahan positif, apakah ada keduanya atau serial tvnya ada lagi. Tapi mengikuti hukum pasar kita ga juga, tapi kita berhenti kalau sudah merasa berhenti," pungkasnya.


Editor : inilahkoran