Ada Mitos Gaib dalam Ngamandian Goong Sibeser, Apa Itu?
Bagi masyarakat Kampung Jajaway, ritual Ngamandian Goong Sibeser salah satu ritual sakral. Ada mitos gaib juga dalam upacara ini. Apa itu?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Bagi masyarakat Kampung Jajaway, Kabupaten Bandung Barat, ritual upacara Ngamandian Goong Sibeser dianggap sebagai salah satu ritual yang sakral.
Pasalnya, ritual upacara Ngamandian Goong Sibeser ini merupakan bentuk penghormatan terhadap keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Salah satu tokoh setempat, Abah Unar menuturkan, ada beberapa tahapan atau proses untuk melaksanakan ritual upacara Ngamandian Goong Sibeser.
"Masyarakat dan aparat pemerintahan desa berkumpul di Lapangan Kampung Nyenang sekitar pukul 12.00 WIB. Semua sarana dan prasarana Upacara dikumpulkan dan dipegang oleh para peserta Upacara termasuk membawa 1 (satu) Goong Besar," katanya kepada INILAHKORAN, belum lama ini.
Ia menjelaskan, semua peserta berbaris untuk melakukan arak-arakan diiringi oleh musik seni buhun angklung buncis menuju Sungai Tarentong.
Baca Juga: Kapankah Waktu yang Tepat Menggelar Ritual Ngamandian Goong Sibeser?
"Rombongan arak-arakan tiba di Sungai Tarengtong dan menata tempat untuk menyajikan tumpeng dari masyarakat," jelasnya.
Selanjutnya, pemangku adat dan sesepuh masyarakat menuju mata air Tarengtong yang berlokasi di atas bukit untuk melakukan upacara dengan membawa sesajen, tumpeng lengkap dengan bakakak hayam dan lauk pauk lainnya.
"Di tempat upacara, sesajen dan tumpeng diletakkan di dekat mata air Tarengtong," ujarnya.
Selanjutnya, kata dia, pemangku adat menyalakan parukuyan dari sintung kelapa dan membakar kemenyan. Lantunan doa yang terdengar menggunakan bahasa arab yang dimulai dengan membaca Bisimillahirohmanirahim.
"Doa dilanjutkan dengan menggunakan bahasa Sunda untuk menyampaikan maksud dan tujuannya, antara lain menyampaikan kondisi dan situasi alam mengenai tanah dan Muara Bojong yang sedang mengalami kemarau panjang," katanya.
Kemudian, sambung dia, memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memberkati usaha manusia dalam kegiatan Upacara Ngamandian Goong Sibeser dengan dikabulkannya turun hujan.
"Mengharapkan hujan yang turun membawa kesuburan sesuai harapan petani dan peladang," ucapnya.
Selesai upacara doa leluhur dipanjatkan, tambah dia, masyarakat membawa Goong ke Sungai Tarengtong untuk dimandikan dalam Upacara Ngamandian Goong Sibeser sebagai syarat yang terungkap dari amanat leluhur.
Baca Juga: Hadapi Musim Kemarau, Masyarakat Kampung Jajaway Gelar Ritual Ngamandian Goong Sibeser
"Sambil memandikan Goong, semua peserta Upacara ada yang mandi di sungai terutama anak-anak, saling siram-menyiram diantara mereka dengan penuh kegembiraan," bebernya.
Akhir pelaksanaan upacara, tambah dia, semua peserta upacara ini makan tumpeng bersama seluruh masyarakat Kampung Jajaway.
"Tahap akhir kegiatan melihat Batu Panayogean. Batu Panayogean pada upacara Ngamandian Goong Sibeser lokasinya sangat jauh berada di Gunung Padang," ujarnya.
"Sehingga antara tempat upacara Sungai Tarentong dengan Batu Panayogean harus ditempuh dengan jalan kaki selama satu jam perjalanan," sambungnya.
Perlu diketahui, Batu Panayogean dipercaya masyarakat Kampung Jajaway sebagai media untuk mengukur datangnya rentang hujan oleh pemangku adat dengan membaca doa/mantra pada dinding batu besar.
Adapun kalimat yang dibacakan sebagai berikut, Pamundut raksaning bewara alam ka kersana gusti Allah, para karuhun kum sadayana mugia mamparin waleran gambaran cirining waktu naktuning wanci kana ieu batu panayogean aya ciri sabaraha poe deui lungsurna hujan.
(Artinya Memohon arahan berita alam dari Hyang Agung Alloh SWT, serta para leluhur semuanya agar alat batu (panayogean) memberikan tanda (ciri) berapa hari lagi hujan akan turun).
Kemudian pemangku adat melihat datangnya rembesan air yang melintas guratan garis terdiri dari tiga garis. Jika rembesan air berhenti pada garis pertama, maka hujan akan turun satu hari lagi. Demikian pula jika melintas garis kedua hujan akan turun hari kedua dan jika melintas garis ke tiga hujan akan turun hari ke tiga. (agus satya nagara)
Editor : inilahkoran

