Akademisi: Pers Kudu Kedepankan Etika dan Jaga Marwah 

Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ini, akademisi menilai tantangan pers di era digital bukan lagi publik mencari informasi yang dibutuhkan. Melainkan, memilah informasi yang akurat dan bertanggung jawab.

Akademisi: Pers Kudu Kedepankan Etika dan Jaga Marwah 
net

INILAH, Bandung - Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ini, akademisi menilai tantangan pers di era digital bukan lagi publik mencari informasi yang dibutuhkan. Melainkan, memilah informasi yang akurat dan bertanggung jawab.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) Vera Hermawan mengatakan, sebaran informasi hoaks saat ini selalu saja mewarnai aktivitas publik dalam mengkonsumsi informasi. Untuk itu, pers harus menjadi garda terdepan dalam memerangi informasi bohong. Karenanya, pers harus jujur menyiarkan berita.

"Literasi media atau biasa dikenal dengan melek media tentu menjadi tanggung jawab bersama, agar hari pers ini menjadi makna yang penting dan bermanfaat bagi seluruh publik di Indonesia," kata Vera, Minggu (9/2/2020).

Dia mengatakan, pers nasional hendaknya diposisikan sebagai agen perubahan. Bahkan, pers memiliki kedudukan sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Artinya, pers memiliki posisi tawar yang tidak kecil dalam laju perkembangan bangsa.

Selain itu, hal yang masih perlu di evaluasi dalam perkembangan pers dewasa ini, terkait peningkatan kesejahteraan wartawan. Di sektor itulah industri media berperan guna membangun ekosistem yang sehat dalam dunia pers.

"Akhirnya, di hari Pers tahun ini, media tidak hanya menyajikan kebenaran tetapi juga harus mengedepankan etika. Marwah pers harus terus dijaga," imbuh Vera. (Okky Adiana)


Editor : Doni Ramdhani