7 Hari Terapung di Laut, Faisal Selamat dari Tenggelamnya KMP Virgo Transport 8

Faisal Weskurni, warga Bandung Barat, menceritakan perjuangannya bertahan selama tujuh hari setelah KMP Virgo Transport 8 tenggelam.

7 Hari Terapung di Laut, Faisal Selamat dari Tenggelamnya KMP Virgo Transport 8
istimewa

INILAHKORAN.ID-Tujuh hari terkatung-katung di tengah laut menjadi pengalaman yang tak akan pernah dilupakan Faisal Weskurni (26), warga Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Faisal merupakan salah satu penumpang yang selamat dari tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 pada Sabtu (19/9/2026) malam. Dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes, sebanyak 126 orang hingga kini masih belum ditemukan.

Kepada wartawan, Faisal menceritakan pengalaman mencekam yang dialaminya. Mulai dari suara ledakan, kapal yang tiba-tiba miring, hingga momen ketika ia harus berpisah dengan puluhan penumpang yang tidak sempat diselamatkan.

Faisal sebelumnya berangkat dari Bandung menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja sebagai sopir di perkebunan kelapa sawit dengan kontrak selama satu tahun.

Namun, sebelum kecelakaan terjadi, ia sempat merasakan kondisi laut yang tidak bersahabat. Gelombang mengguncang kapal dengan keras hingga membuatnya muntah.

Saat kejadian, Faisal sedang berada di kapal sambil merokok. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari bagian kiri kapal.

"Saya itu posisinya lagi ngerokok, terus ngedengar bunyi ngebledug di sebelah kiri kapal," kata Faisal saat dihubungi, Senin (21/9/2026).

Suara tersebut terdengar cukup jelas. Tak lama kemudian, kapal mulai miring. Faisal pun berteriak memperingatkan penumpang lain dan bergegas mengambil pelampung.

"Terdengar jelas. Kapal miring! Saya berteriak, 'Woi, kapal miring! Kapal miring!' Habis itu saya ke belakang ngambil pelampung, membangunkan teman-teman," ungkapnya.

Faisal memperkirakan kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 00.15 waktu setempat. Hal yang paling membekas baginya adalah tidak adanya peringatan dari awak kapal sebelum kapal semakin miring.

Menurut Faisal, tidak terdengar alarm maupun pengumuman mengenai kondisi darurat. Penumpang juga tidak mendapatkan arahan evakuasi.

"Enggak ada sedikit pun orang kapal yang bilang apa, kapal mau tenggelam, enggak ada. Alarm enggak ada, panduan evakuasi enggak ada. Seharusnya ada bilang kapal mau miring atau badai besar, itu enggak ada," sebutnya.

Ia sempat melihat sekoci diturunkan sebelum kapal benar-benar terbalik. Namun, Faisal tidak mengetahui siapa saja yang berhasil masuk ke dalam sekoci tersebut.

Saat kapal semakin miring, kepanikan terjadi. Sebagian penumpang berlari dan melompat ke laut, sementara sebagian lainnya terjebak di dalam kapal.

"Waktu terakhir di atas kapal itu ada 11 orang bersama saya. Saya yang pertama terbawa arus. Banyak orang meminta tolong, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah," tuturnya.

Di tengah situasi tersebut, Faisal melihat sejumlah penumpang berusaha melakukan berbagai hal untuk bertahan dan menenangkan diri.

"Ada teman yang salat, ada yang mengaji. Bahkan ada orang yang melihat hiu," sambungnya.

Faisal mengatakan dirinya tidak sengaja melompat dari kapal. Ia terbawa arus setelah azan Subuh berkumandang.

Di tengah laut, satu hal yang terus berada dalam pikirannya adalah keluarga. Ia teringat istri dan dua anaknya yang masih kecil. Mereka menjadi alasan utama bagi Faisal untuk terus berusaha bertahan hidup.

Selama tujuh hari, Faisal berjuang menghadapi gelombang, rasa takut, ketidakpastian, serta kondisi orang-orang di sekitarnya yang satu per satu menghilang.

Kini Faisal telah kembali ke rumahnya di Bandung Barat. Ia dijemput dan didampingi jajaran Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung Barat.

Faisal juga menyampaikan rasa syukur atas perhatian pemerintah daerah, termasuk bantuan dan fasilitasi kepulangannya dari lokasi evakuasi.

Meski telah kembali berkumpul dengan keluarga, pengalaman tersebut masih meninggalkan trauma. Rencana bekerja ke Kalimantan Tengah pun untuk sementara ditunda.

"Kalau naik kapal besar lagi, sekarang pasti masih trauma. Ke depan belum tahu, saya ingin menenangkan pikiran dulu, istirahat di rumah," kata Faisal.

Dari pengalaman yang dialaminya, Faisal berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran penting bagi pengelola transportasi laut. Menurutnya, keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama, termasuk memastikan kapal memiliki sistem peringatan yang berfungsi dan awak yang siap bertindak cepat dalam situasi darurat.

Bagi Faisal, keselamatan bukan sekadar persoalan prosedur. Dalam kondisi darurat di tengah laut, peringatan beberapa menit saja dapat menentukan hidup dan mati penumpang.***


Editor : JakaPermana