Akhirnya Terminal Soreang Akan Diperluas
Pemerintah Kabupaten Bandung akan melakukan perluasan Terminal Soreang. Tujuannya, menertibkan terminal bayangan di bunderan Jalan Raya Soreang-Banjaran.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH,Bandung- Pemerintah Kabupaten Bandung akan melakukan perluasan Terminal Soreang. Tujuannya, menertibkan terminal bayangan di bunderan Jalan Raya Soreang-Banjaran.
Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan yang juga Plt Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Marlan mengakui jika keberadaan terminal bayangan tersebut menjadi pemicu kesemrawutan dan kemacetan arus lalu lintas. Karena memang berbagai kendaraan parkir disana bersatu dengan pasar.
"Memang agak sulit juga yah, soalnya itu parkir pasar juga. Rencananya kami akan melakukan perluasan Terminal Soreang sekitar 2000 meter persegi. Nah setelah perluasan nanti totalnya sekitar menjadi 4000 meter persegi, mudah mudahan saja bisa menampung semuanya," kata Marlan, Minggu (28/4/2019).
Menurut Marlan, rencana perluasan Terminal Soreang ini satu paket pengerjaan dengan perluasan dan revitalisasi Pasar Soreang. Saat ini, rencana tersebut telah memasuki tahap persiapan lelang investasi.
Nilai investasi pasar dan terminal ini kurang lebih sebesar Rp 300 miliar. Berdasarkan informasi yang diterimanya, hingga saat ini juga ada beberapa perusahaan yang siap mengikuti lelang tersebut.
"Kalau lahannya seluas 8500 meter persegi Alhamdulilah sudah dibebaskan oleh Pemkab Bandung. Semoga saja sebelum tahun 2021 atau sebelum habis masa jabatan Bupati Dadang M Naser, revitalisasi pasar dan terminal Soreang ini sudah selesai," ujarnya.
Marlan melanjutkan, selain memperluas terminal, Pemkab pun melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bandung akan menambah petugas untuk melakukan penertiban di terminal itu.
Diberitakan sebelumnya, keberadaan terminal bayangan di bunderan Jalan Raya Soreang-Banjaran yang lokasinya tak jauh dari Terminal Soreang dipertanyakan warga.
Keberadaan angkutan kota (angkot) jurusan Soreang-Banjaran dan delman membuat salah satu sudut kawasan Ibu Kota Kabupaten Bandung itu terlihat semrawut dan kumuh.
Asep Dedi (55) salah seorang warga sekitar mengatakan, keberadaan terminal bayangan di bunderan tersebut terbilang lama. Para pengemudi angkot jurusan Soreang-Banjaran lebih suka memarkir kendaraannya di badan jalan bunderan tersebut. Padahal, Terminal Soreang yang resmi disediakan pemerintah hanya berjarak sekitar 50 meter.
"Yah kalau jalur ini lagi padat, keberadaan angkot yang ngetem itu bikin macet. Selain itu yah bundaran jalan yang tengahnya ada patung itu juga jadi kumuh seperti enggak pernah ada perawatan saja. Sebagai bagian dari kawasan Ibu Kota Kabupaten Bandung, rasanya kurang elok dan bikin greget masa di tengah tengah kota jadi tempat ngetem dan kumuh," kata Asep.
Menurut Asep, alangkah baiknya jika keberadaan terminal bayangan tersebut ditertibkan. Kemudian, kawaasan bundaran jalan itu diperbaiki dan dirawat agar suasana kota menjadi indah, resik dan menyenangkan. Sehingga, warga kota Soreang atau siapapun yang datang berkunjung merasa betah dan nyaman.
"Sudah semestinya kawasan perkotaan itu dibuat senyaman mungkin. Coba saja bandingkan dengan ibu kota kabupaten lainnya di Jawa Barat, rasanya banyak yang bagus dan indah. Kok disini semrawut bercampur dengan bau kotoran kuda," ujarnya.
Salah seorang tokoh masyarakat Soreang, Wawan Maryana, mengemukan keprihatinan yang sama. Menurutnya, selama ini kepedulian terhadap tata ruang dan tata kota Soreang sebagai Ibu Kota Kabupaten Bandung dirasa sangat kurang. Pemerintah dan masyarakat secara umum cenderung apatis terhadap perkembangan kotanya.
"Soreang sebagai kawasan Ibu Kota Kabupaten Bandung itu kurang mendapatkan perhatian sebagai mana mestinya. Padahal, sejak tahun 80 an, Pajak Bumi Bangunan (PBB) disini perkotaan. Tapi sayangnya, disini banyak pembangunan yang dilakukan pemerintah terbengkalai termasuk terminal Soreang," ujarnya.
Tak hanya itu saja, lanjut Wawan, selain lalai dalam penataan kota. Pemerintah juga dinilainya mengabaikan penamaan jalan jalan yang ada di kawasan ibu kota. Sehingga, meskipun telah berdiri puluhan tahun, kawasan ibu kota ini tak memiliki nama nama jalan yang resmi.
"Ini yang membuat kami sebagai warga pituin (asli) Soreang kecewa dan malu sama kondisi ini. Kalau bisa sebaiknya pindah saja Ibu Kota Kabupaten Bandung itu jangan disini. Toh tidak terlalu membawa dampak positif untuk perkembangan hidup kami warga Soreang," katanya.(Rd Dani R nugraha).
Editor : Bsafaat

