Aktivitas Galian C Bikin Resah Warga Desa Nagreg

Resah dengan keberadaan galian C yang merusak lingkungan, warga Desa/Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung, menggelar rembukan dengan para tokoh masyarakat untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang mereka rasakan sejak setahun terakhir ini.

INILAH, Bandung- Resah dengan keberadaan galian C yang merusak lingkungan, warga Desa/Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung, menggelar rembukan dengan para tokoh masyarakat untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang mereka rasakan sejak setahun terakhir ini.

Lalu lalang truk pengangkut tanah yang beroperasi siang malammenimbulkann debu, ceceran tanah serta kerusakan lingkungan di lahan galian berpotensi menimbulkan bencana alam.

Gilang Muhamad Hambali (31) salah seorang warga Kampung Cigorowong RT 3 RW 12 Desa/Kecamatan Nagreg, mengatakan, aktivitas galian C di kawasan bukit Pabeasan, Pamancar dan bukit Serang di sekitar Jalan Raya Lingkar Nagreg sudah berlangsung kurang lebih satu tahun terakhir ini. Dampaknya, bukit bukit yang semula hijau itu kini gersang dan mengangga karena tanahnya terus dikeruk oleh empat perusahaan galian C. 

"Setiap hari 24 jam lalu lalang dump truk di Jalan Raya menimbulkan debu berterbangan kepumukiman. Membuat sesak nafas dan juga hilir mudiknya truk siang malam itu sangat mengganggu. Belum lagi kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat galian C tersebut bisa menimbulkan bencana banjir dan longsor. Kalau musim hujan itu jalan lingkar Nagreg mulai dari SPBU sampai warung Ubi air bersama lumpur tanah merah selalu menggenangi jalanan," kata Gilang saat dihubungi melalui ponselnya, Minggu (6/10/2019).

Menurut kabar yang diterima Gilang, tanah galian dari tempat tersebut digunakan untuk mengurug proyek Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC) yang berada di sekitar jalan Tol Cileunyi KM 152. Selain itu, tanah urugan juga diangkut ke kawasan Kecamatan Bojongsoang untuk menguruk ratusan hektar sawah yang akan dibuat proyek perumahaan swasta.

"Selama ini kami masyarakat disini diam, karena menghargai itu proyek pemerintah (KCIC). Tapi meskipun proyek pemerintah bukan berarti bisa dilaksanakan seenaknya saja, kami warga sekitar galian C sangat merasakan dampak negatifnya," ujarnya.

Karena sudah jengah dengan keadaan lingkungannya yang semakin rusak, lanjut Gilang, ia bersama masyarakat akan mengadakan musyawarah. Dengan tujuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan lingkungan yang mereka alami semenjak beroperasinya galian C tersebut. 

"Kami mau rembukan dulu untuk cari solusinya. Apakah nantinya truk truk itu diminta untuk tidak beroperasi 24 jam atau minta semua aktivitas galian C disana dihentikan kami belum tahu. Tapi yang pasti, jika diperlukan kami juga siap melakukan unjuk rasa pada pemerintah yang sudah kasih izin pada empat perusahaan tersebut untuk merusak lingkungan dan mengusik ketenangan hidup kami," katanya. (rd dani r nugraha).

 


Editor : Bsafaat