Al Ittifaq, Koperasi Percontohan Jabar hingga Nasional
Pondok pesantren pada umumnya hanya berfokus pada ilmu keagamaan. Namun berbeda dengan salah satu pondok pesantren yang berada di Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Soreang - Pondok pesantren pada umumnya hanya berfokus pada ilmu keagamaan. Namun berbeda dengan salah satu pondok pesantren yang berada di Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.
Pondok pesantren Al Ittifaq yang didirikan KH Mansyur pada 1 Februari 1934 nyatanya tak hanya mengajarkan ilmu agama dan mengaji Al-Quran. Para santri di pondok ini pun dibina dan dibekali keahlian lain, terutama dalam bidang agrobisnis atau pertanian.
Dari usaha ini, Ponpes Al Ittifaq mampu memasok sayur-sayuran tidak hanya untuk pasar-pasar tradisional, namun juga sudah merambah ke pasar modern mulai dari wilayah Bandung hingga Jabodetabek.
Keberhasilan Ponpes ini tidak terlepas dari tangan dingin pimpinan pondok KH Fuad Affandi sekaligus cucu dari pendiri yang telah berhasil mengembangkan inovasi di bidang agrobisnis.
Lewat tangan KH Fuad Affandi, penerapan pendidikan dilakukan secara modern tanpa menghilangkan esensi dari ponpes itu sendiri. Lokasi serta potensi alam yang mendukung menjadikan ponpes Al Ittifaq mampu mengombinasikan antara pendidikan agama dan agrobisnis.
Alhasil, Pondok Pesantren Al Ittifaq kini, tak hanya mampu menyejahterakan para santrinya, namun juga bagi seluruh masyarakat yang berada di sekitar pondok pesantren.
Al Ittifaq kini menjadi unit koperasi pondok pesantren yang telah berhasil dan sukses menjadi koperasi pondok pesantren (kopontren) yang ditunjuk langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Desember 2018 lalu, untuk menjalankan program One Pesantren One Product (OPOP) yang bertujuan untuk mendorong seluruh ponpes yang ada di Jawa Barat agar lebih mandiri.
Koperasi pondok pesantren ini telah mampu membangun ekonomi secara mandiri melalui usaha agrobisnis yang telah dijalani.
Ilyas, Sekretaris Kopontren Al Ittifaq menuturkan, ada 126 jenis sayur yang telah diproduksi dan dipasok ke berbagai pasar, baik pasar tradisional maupun pasar modern yang ada di wilayah Bandung dan Jabodetabek.
“Kita sudah produksi ratusan sayur yang siap kirim ke berbagai pasar, namun itu pun masih kurang untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup besar,” tuturnya.
Dikatakan Ilyas, produk sayuran pun dibagi menjadi beberapa grade, mulai dari grade A, B, dan C sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Ada 3 grade dari petani, grade A yang sudah dikemas dan siap kirim ke pasar-pasar modern, seperti supermarket dan mal-mal besar. Grade B, ke mal dan pasar-pasar tradisional, dan grade C yang merupakan campuran dari beberapa grade yang kemudian kita sortir ulang,” papar Ilyas.
Ketua Koperasi Pesantren Al Ittifaq, Setia Irawan menyampaikan, saat ini sekitar 70 pesantren sudah bergerak di bidang pertanian. Banyak pesantren memilih pertanian karena potensinya memang ada di pertanian.
"Ini jadi konsen pesantren. Ketika pesantren melahirkan santri, apa semuanya akan menjadi ulama, kan tidak," ujarnya saat ditemui INILAH di Kantor Ponpes Al Ittifaq, Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan, Rancabali, Kabupaten Bandung, Selasa (25/6/2019).
Hal tersebut yang menjadi dasar, Pondok Pesantren Al Ittifaq mengembangkan produk yang bisa menjadi mata pencaharian para santri. Selain itu, pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pesantren menjadi fokus utama agar bisa mengembangkan potensi agrobisnis ini.
Untuk mencapai kondisi sekarang ini, Al Ittifaq membutuhkan waktu yang relatif lama, sekitar 23 tahun agar produk pertanian yang mereka hasilkan bisa menembus pasar modern.
"Kita mulai pertanian ini sejak tahun 1970 dan di tahun 1993 kita akhirnya bisa menyuplai produk pertanian ke supermarket yang ada Bandung dan Jabodetabek," papar Irawan, sapaan akrab Setia Irawan.
Lebih jauh Irawan menuturkan, dirinya bersyukur, sekarang pondok pesantren tempatnya mengabdi sudah menjadi penyuplai ke supermarket di Bandung dan Jakarta.
Kunci kesuksesannya, Al Ittifaq membagi petani dalam 9 kelompok tani yang terdiri dari 270 orang petani binaan dengan 130 hektare lahan garapan.
"Yang menarik, semua petani merupakan para santri yang notabene alumni Al Ittifaq. Jadi, sistem pola tanam dan budi daya sesuai dengan standard operation procedure (SOP) yang diterapkan," katanya.
Irawan menjelaskan, pihaknya pun menerapkan budaya pesantren dalam mengelola pertanian. Yakni, santri harus manut dan mengikuti apa yang dikatakan kiai.
"Dengan budaya pesantren ini, kita bisa memenuhi kualitas dan kuantitas yang diperlukan oleh supermarket," jelasnya.
Dikatakan Irawan, untuk menyuplai sayuran ke supermarket, yang paling harus dijaga adalah kontinuitas. Jadi, di pesantrennya setiap hari ada yang menanam dan setiap hari ada panen.
"Omzet per bulan sampai Rp300 juta. Ini baru bisa memenuhi 30 persen permintaan dari supermarket ke kami. Jadi, permintaan dari supermarket masih banyak yang belum kami penuhi," katanya.
Sebenarnya, lebih jauh Irawan menjelaskan, masih banyak pihak yang meminta untuk disuplai sayuran karena dinilai Al Ittifaq sudah memiliki kualitas bagus.
Tapi, ada sistem transaksi yang dinilai tidak sesuai dengan yang situasi dan kondisi. Yaitu, pengiriman harus dilakukan setiap hari, tapi pembayaran baru dilakukan pada hari ke-21.
"Jadi ada kendala dalam term of payment. Bagi kami lebih senang pembayaran dengan jangka waktu yang lebih pendek. Makanya, kami bekerja sama dengan perbankan baik dengan bank nasional maupun Bank Indonesia," kata Irawan seraya mengatakan ada kebijakan yang dikeluarkan BI di mana pembayaran dari setiap tanggal 21 menjadi tanggal 5.
Ketua Koperasi Al Ittifaq ini berharap, produksi pertaniannya bisa didistribusikan lebih luas lagi. Irawan optimistis, karena dalam waktu dekat akan ada penandatanganan MoU untuk mengirimkan sayuran ke supermarket yang ada di Jabodetabek.
Saat ini, Al Ittifaq menjual 126 macam produk ke supermarket dengan 60 jenis sayuran, di antaranya ada jagung kupas, jagung, kulit dan lainnya.
"Kendala untuk mengembangkan bisnis pertanian ini, kalau bicara pemenuhan permintaan pasar bukan hanya term of payment, tapi kita harus menanam apa di setiap daerah," katanya.
Dengan jejaring antarpesantren, kata dia, diharapkan pesantren Al Ittifaq bisa membantu menyalurkan produk pesantren lain. Sehingga, nantinya bisa membentuk holding dengan pesantren lain dan bisa menggerakkan ekonomi pesantren.
"Ya, kami diminta oleh Gubernur Jawa Barat untuk menjadi komandan produk pertanian dan sayuran. Kalau kami yang memimpin, nanti bukan hanya di hulu di bidang budi daya, juga dalam hal marketing-nya diintegrasikan," katanya.
Dia menambahkan, pesantrennya pun siap untuk berbagi ilmu pertanian dengan pesantren lain yang ada di Jabar. Karena, selama ini pihaknya memang sudah membuat kelas-kelas pertanian.
Bahkan, sebelum ada program OPOP, pesantrennya sudah menjadi pusat pelatihan pertanian berbasis pesantren bagi masyarakat Jawa Barat, bahkan bagi daerah lain di seluruh Indonesia.
"Ke depan dengan adanya program OPOP ini, kami akan menyinergikan budi daya dengan teknologi kekinian. Karena, Al Ittifaq setelah mendapat pelatihan pertanian dari Jepang yang teknologi pertaniannya sudah sangat canggih," pungkasnya. (Agus Satia)
Editor : suroprapanca

