Albert Lukas Pithel Hasugian Raih Juara II Mahasiswa Berprestasi Nasional 2025

Albert Lukas Pithel Hasugian, mahasiswa SBM ITB, berhasil meraih Juara II Mahasiswa Berprestasi Nasional 2025 di Universitas Diponegoro. Prestasi ini menjadi capaian bersejarah bagi ITB setelah 11 tahun kembali menembus posisi dua besar ajang Mawapres Nasional.

Albert Lukas Pithel Hasugian Raih Juara II Mahasiswa Berprestasi Nasional 2025
lbert Lukas Pithel Hasugian, mahasiswa SBM ITB, berhasil meraih Juara II Mahasiswa Berprestasi Nasional 2025 di Universitas Diponegoro. Prestasi ini menjadi capaian bersejarah bagi ITB setelah 11 tahun kembali menembus posisi dua besar ajang Mawapres Nasional.

INILAHKORAN.ID,Bandung- Kabar membanggakan kembali datang dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Albert Lukas Pithel Hasugian, mahasiswa Program Studi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, berhasil meraih Juara II Mahasiswa Berprestasi Nasional (Mawapres) 2025.

Kompetisi bergengsi tingkat nasional ini digelar di Universitas Diponegoro, Semarang, dan mempertemukan 15 finalis terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Juara I diraih oleh perwakilan Universitas Diponegoro, sementara Juara III berasal dari IPB University, serta Juara Harapan diraih oleh mahasiswa UGM dan UI.

Prestasi ini menjadi sejarah baru bagi ITB, karena untuk pertama kalinya dalam 11 tahun terakhir kampus Ganesha kembali menembus posisi dua besar di ajang Mawapres Nasional.

Perjalanan Panjang Menuju Puncak
Untuk mencapai posisi tersebut, Albert harus melalui proses seleksi berlapis—mulai dari tingkat institusi, regional Jawa Barat, hingga nasional. Penilaian mencakup tiga aspek utama: capaian unggulan prestasi, gagasan kreatif, dan kemampuan berbahasa Inggris.

"Menjelang final, tentu ada rasa deg-degan, tapi lebih karena semangat untuk memberikan yang terbaik. Saya melihatnya sebagai kesempatan berharga untuk belajar dan bertemu banyak mahasiswa hebat dari seluruh Indonesia," ujar Albert.

Namun di balik prestasi gemilang itu, perjalanan Albert tidaklah instan. Ia mengaku telah mengalami belasan kali kegagalan dalam berbagai kompetisi sebelum akhirnya menembus panggung nasional. "Bagi saya, setiap kegagalan adalah kesempatan untuk belajar, berefleksi, dan tumbuh lebih baik," tuturnya.

Prestasi Internasional dan Lingkungan yang Mendukung
Albert dikenal aktif mengikuti berbagai kompetisi nasional dan internasional. Di antaranya, Juara 1 Uniqlo Global Management Program, Juara 2 NUS Young Fellowship Program, Juara 1 Alphasights Asia Case Competition, dan Best Individual BFI Case Jam by Singapore Management University.

Menurutnya, kompetisi merupakan wadah pembelajaran praktis dari teori yang didapat di kelas.
"Lewat kompetisi, saya tidak hanya mengasah kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif, tetapi juga memahami bisnis lintas industri. Pengalaman di ajang internasional memperluas wawasan saya dan memberi exposure global yang berharga," jelasnya.

Albert menambahkan, lingkungan ITB'>SBM ITB sangat mendukung pengembangan kemampuan berbahasa Inggris. Keberhasilan Albert juga tak lepas dari bimbingan para dosen dan dukungan Direktorat Kemahasiswaan ITB, termasuk Isti Raafaldini, Dany Athori, Sonny Rustiadi, Muhammad Insanu, dan Yorga Permana. Ia juga terinspirasi oleh para pendahulu Mawapres ITB seperti Eli Sulistiyowati (2024), Nathalie Maura (2023), dan Ilham Subandoro (2021).

Makna di Balik Perjuangan
Berasal dari keluarga sederhana, Albert merupakan penerima beasiswa KIPK. "Sebagai anak sopir angkutan umum, bisa kuliah di ITB saja sudah kebanggaan besar bagi keluarga. Berbagai lomba dan program yang saya ikuti memberi pengalaman berharga sekaligus membantu meringankan beban finansial keluarga. Bahkan, dari sana saya bisa merasakan pengalaman ke luar negeri tanpa harus meminta biaya dari orang tua," ujarnya.

Meski tengah sibuk magang dan menulis skripsi, Albert tetap fokus menyiapkan diri menghadapi kompetisi. "Tantangan terbesar adalah manajemen waktu. Tapi dari situ saya belajar pentingnya disiplin, fokus, dan mengatur prioritas," tambahnya.

Bagi Albert, menjadi Mahasiswa Berprestasi bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi pengalaman hidup yang bermakna. Motivasi itu pula yang mendorong Albert untuk terus berjuang.

"Menjadi Mawapres bukan sekadar soal prestasi, tapi tentang bagaimana memberi contoh dan berbagi manfaat dari apa yang sudah dipelajari. Saya percaya, pengetahuan akan bermakna ketika dibagikan, dan titik tertinggi dari prestasi adalah saat orang lain bisa merasakan dampaknya," ujarnya.

"Saya ingin dikenal bukan hanya sebagai juara lomba, tapi sebagai seseorang yang memberi manfaat bagi orang lain. Kita semua adalah mahasiswa berprestasi dalam jalannya masing-masing. Prestasi bukan hanya tentang kemenangan, tapi tentang dampak positif yang bisa kita berikan," tutupnya dengan senyum.***


Editor : Ghiok Riswoto