Amalan-amalan Ramadan, Tak Ada Salahnya Berlatih dari Sekarang

DI bulan Ramadhan ada beberapa amalan yang disyariatkan, di antara amalan itu ada yang wajib dan ada yang sunat. Berikut amalan tersebut:

Amalan-amalan Ramadan, Tak Ada Salahnya Berlatih dari Sekarang
Ilustrasi/Net

DI bulan Ramadhan ada beberapa amalan yang disyariatkan, di antara amalan itu ada yang wajib dan ada yang sunat. Berikut amalan tersebut:

Berpuasa,

Dalam hadits Qudsiy Allah berfirman: "Semua amal anak Adam untuknya selain puasa, puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya." (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa di banding amalan yang lain dan besarnya pahala yang akan Allah berikan kepada orang yang berpuasa, karena Dia yang akan membalasnya.

Shalat Tarawih

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari)

Lebih utama lagi jika dilakukan berjamaah bersama imam hingga selesai, karena akan dicatat untuknya pahala melakukan shalat semalaman suntuk.

Berumrah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Berumrah di bulan Ramadhan sama seperti hajji." (HR. Bukhari dan Muslim)

Memperbanyak membaca Al Quran, berdzikr dan berdoa

Siang dan malam bulan Ramadhan adalah saat-saat utama beramal shalih, maka manfaatkanlah dengan banyak membaca Al Quran, berdzikr dan berdoa.

Bersedekah

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, bahkan melebihi angin yang berhembus. Hal ini menunjukkan bahwa sepatutnya kita lebih sungguh-sungguh lagi beribadah dan beramal saleh khususnya di waktu-waktu yang penuh keberkahan seperti di bulan Ramadhan. Termasuk bersedekah di bulan Ramadhan adalah memberikan makanan untuk berbuka orang yang berpuasa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Barang siapa memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi sedikitpun." (HR. Ahmad, Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani)

Beritikaf

Setelah hari-hari biasanya kita sibuk terhadap urusan dunia, kita diminta hanya sebentar untuk menyibukkan diri dengan akhirat (fokus kepada akhirat), yaitu dengan beritikaf.

Itikaf artinya menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa beritikaf sepuluh hari di bulan Ramadhan, namun pada tahun wafatnya Beliau, Beliau beritikaf selama dua puluh hari. (sebagaimana dalam riwayat Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Itikaf ini hukumnya sunat, dan menjadi wajib jika dinadzarkan oleh seseorang.

Itikaf lebih utama dilakukan di sepuluh terakhir bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Waktunya dimulai dari setelah shalat Subuh hari pertama dan berakhir sampai matahari tenggelam akhir bulan Ramadhan.

Itikaf terlaksana dengan seseorang tinggal di masjid dengan niat beritikaf baik lama atau hanya sebentar, dan ia akan mendapatkan pahala selama berada di dalam masjid. Bagi yang beritikaf boleh memutuskan atau membatalkan itikafnya kapan saja ia mau, jika ia sudah keluar dari masjid lalu ia hendak beritikaf lagi, maka ia pasang niat lagi untuk beritikaf.

Itikaf tidak batal ketika seseorang keluar dari masjid karena terpaksa harus keluar (seperti ingin buang air, makan dan minum bila tidak ada yang mengantarkan makan untuknya, pergi berobat, mandi dsb). Itikaf menjadi batal jika seseorang keluar dari masjid tanpa suatu keperluan serta melakukan jima.

Aisyah radhiyallahu anha pernah berkata, "Sunnahnya bagi yang beritikaf adalah tidak menjenguk orang yang sakit, tidak menyentuh istri, memeluknya, tidak keluar kecuali jika diperlukan, dan itikaf hanya bisa dilakukan dalam keadaan puasa, juga tidak dilakukan kecuali di masjid jaami (masjid yang di situ ditegakkan shalat Jumat dan jamaah)."

Hendaknya orang yang beritikaf memanfaatkan waktunya yang ada dengan sebaik-baiknya, seperti memperbanyak dzikr (baik yang mutlak maupun yang muqayyad), membaca Al Quran, mengerjakan shalat-shalat sunnah dan amalan sunat lainnya serta memperbanyak tafakkur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan yang akan datang juga merenungi hakikat hidup di dunia. Ia pun hendaknya menghindari perbuatan yang sia-sia seperti banyak bercanda, ngobrol dsb. (mozaik.inilah.com_


Editor : Bsafaat