Angkot Listrik Mulai Diuji Coba di Bandung, Rute Ledeng-Bandara Husein

Kopamas Kota Bandung mulai menguji angkot listrik rute Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara. Biaya operasional diklaim lebih hemat hingga 70 persen.

Angkot Listrik Mulai Diuji Coba di Bandung, Rute Ledeng-Bandara Husein
Angkot listrik milik PT Mobil Anak Bangsa (MAB) menjalani uji coba di trayek Terminal Ledeng - Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.

INILAHKORAN.ID-Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung mulai melakukan uji coba angkot listrik untuk melayani trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.

Uji coba angkot listrik tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data sekaligus mengetahui kesiapan kendaraan sebelum nantinya digunakan secara penuh sebagai angkutan umum di Kota Bandung.

Ketua Kopamas Kota Bandung, Budi Kurnia, mengatakan uji coba tidak hanya bertujuan memperkenalkan kendaraan listrik kepada masyarakat. Kopamas juga ingin mengetahui ketahanan kendaraan serta respons masyarakat terhadap angkutan umum berbasis listrik.

“Uji coba ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, kami ingin mengukur durabilitas atau ketahanan kendaraan. Kedua, kami ingin menguji sekaligus melihat tanggapan masyarakat Kota Bandung terhadap penggunaan kendaraan listrik sebagai angkutan umum,” kata Budi Kurnia, Rabu (19/8/2026).

angkot listrik Bandung Diuji di Rute Ledeng-Husein

Trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara dipilih karena merupakan salah satu jalur yang dikelola Kopamas dan sebelumnya telah mengalami perubahan rute.

Sebelumnya, trayek tersebut melayani Cibogo Atas-Andir. Setelah dilakukan rerouting, rute angkot kini menjadi Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.

Menurut Budi, karakteristik jalan pada rute tersebut cukup sesuai untuk kendaraan listrik yang sedang diuji. Sejumlah ruas jalan relatif kecil sehingga membutuhkan kendaraan yang mudah bermanuver.

“Untuk trayek Bandara Husein Sastranegara-Terminal Ledeng, kami memproyeksikan penggunaan kendaraan MAB karena karakteristik jalannya relatif kecil dan membutuhkan kendaraan yang mudah bermanuver,” ucapnya.

Pada tahap awal, Kopamas baru mengoperasikan satu unit angkot listrik. Kendaraan tersebut akan menjalani pengujian dalam kondisi operasional sebenarnya untuk melihat kemampuan, ketahanan, serta tingkat penerimaan masyarakat.

Kopamas Hitung Load Factor dan Kebutuhan Armada

Seluruh hasil uji coba angkot listrik akan didokumentasikan dan menjadi bahan evaluasi Kopamas. Salah satu indikator yang akan dihitung adalah load factor atau tingkat keterisian penumpang.

“Kami juga akan menghitung load factor dan berbagai indikator lainnya. Dari hasil tersebut, nantinya akan diketahui berapa kebutuhan armada, bagaimana tingkat keterisian penumpang dan berbagai kebutuhan operasional lainnya,” ujar Budi.

Kopamas memperkirakan kebutuhan awal untuk trayek tersebut berada di kisaran 15 hingga 20 unit angkot listrik. Armada tersebut nantinya diproyeksikan memiliki headway sekitar 10 hingga 15 menit.

Namun, jumlah armada dan pola operasional tersebut masih dapat berubah karena keputusan final akan menunggu hasil uji coba.

Biaya Operasional Angkot Listrik Lebih Hemat

Selain ketahanan kendaraan, biaya operasional menjadi salah satu pertimbangan Kopamas dalam menguji penggunaan angkot listrik.

Budi menyebut kendaraan konvensional dengan jarak operasional sekitar 180 hingga 200 kilometer per hari membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp150.000 hingga Rp170.000.

Sementara kendaraan listrik yang diuji membutuhkan sekitar 50 kWh untuk sekali pengisian daya. Dengan asumsi tarif listrik sekitar Rp1.600 hingga Rp1.700 per kWh, biaya pengisian disebut berada di bawah Rp50.000.

“Dari biaya operasional, kami bisa melakukan penghematan sampai sekitar 70 persen,” ujarnya.

Dengan konsumsi sekitar 1 kWh untuk jarak lima kilometer, baterai berkapasitas 50 kWh secara teoritis dapat digunakan untuk menempuh sekitar 250 kilometer.

Jarak tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional angkot selama satu hari dengan satu kali pengisian daya.

Angkot Listrik Dinilai Lebih Ramah Lingkungan

Penggunaan kendaraan listrik juga dinilai memberikan keuntungan dari sisi lingkungan karena kendaraan tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung.

Kopamas melihat angkot listrik sebagai salah satu pilihan untuk mendorong sistem transportasi umum yang lebih ramah lingkungan di Kota Bandung.

Budi mengatakan Jawa Barat juga memiliki sejumlah sumber energi pembangkit listrik, di antaranya pembangkit tenaga air dan panas bumi.

“Kita memiliki sumber energi yang berasal dari pembangkit tenaga air, dan panas bumi. Untuk pembangkit tenaga air, kita memiliki Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Kemudian untuk panas bumi ada Kamojang, Darajat dan Wayang Windu,” katanya.

Dilengkapi AC, Wi-Fi dan Pembayaran Digital Disiapkan

Dari sisi kenyamanan, angkot listrik yang diuji telah dilengkapi dengan pendingin udara atau AC.

“Untuk fitur angkot, semuanya sudah tersedia. Kendaraan ini sudah dilengkapi AC sehingga penumpang bisa merasa nyaman,” tutur Budi.

Sementara fasilitas tambahan seperti Wi-Fi dan sistem pembayaran menggunakan tapping card masih dalam tahap persiapan.

Kopamas juga membuka kemungkinan menambah fasilitas berdasarkan masukan dari masyarakat selama masa uji coba.

“Kami membutuhkan masukan dari para pengguna mengenai fasilitas apa saja yang mereka butuhkan. Prinsipnya, kami ingin masyarakat merasa nyaman menggunakan angkutan umum ini,” ucapnya.

Ini Rute angkot listrik Terminal Ledeng-Bandara Husein

Angkot listrik tersebut akan melayani perjalanan dari Terminal Ledeng menuju Bandara Husein Sastranegara dan sebaliknya.

Dari Terminal Ledeng, angkot melintasi Jalan Sersan Bajuri, Jalan Pinus Raya Pondok Hijau, Jalan Abadi, Jalan Pak Gatot Raya, Jalan Gegerkalong Hilir, Jalan Sukahaji, Jalan Ir Sutami, Jalan Cipedes Tengah, Jalan Sukagalih, Jalan Sukamulya, Jalan Dr Djunjunan, Jalan Sukawarna, Jalan LMU Suparmin, Jalan Kapten Tata Natanegara, Jalan Pajajaran hingga Terminal Husein Sastranegara.

Kopamas berharap uji coba tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kesiapan angkot listrik dari sisi teknis, biaya operasional, kenyamanan, hingga penerimaan masyarakat.

Dukungan pemerintah, anggota koperasi, dan masyarakat juga dinilai menjadi faktor penting apabila penggunaan angkot listrik di Kota Bandung nantinya diperluas.***


Editor : JakaPermana