Anton Charliyan: Tradisi Makan Singkong Cireundeu Contoh Nyata Ketahanan Pangan
Rangkaian upacara syukuran Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang digelar Kampung Adat Cireundeu periode 9–11 Juli 2026
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Rangkaian upacara syukuran Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang digelar Kampung Adat Cireundeu periode 9–11 Juli 2026 menegaskan kembali keunggulan kearifan lokal yang terbukti relevan hingga masa kini.
Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Anton Charliyan menilai, keteguhan warga mempertahankan pola makan berbasis rasi atau beras singkong bukan tanda keterbelakangan, namun bukti kemandirian dan solusi cerdas menghadapi tantangan pangan nasional.
"Perayaan ini menandai peralihan dari Tahun Dal ke Tahun Be dalam kalender Sunda, yang bermakna memasuki masa 'tahun bumi'," kata pria yang kerap disapa Abah Anton ini saat ditemui disela acara, Sabtu (11/7/2026).
Di tengah arus globalisasi yang sering melupakan nilai leluhur, ungkap Anton, Cireundeu justru tampil sebagai bukti nyata kampung adat mampu bertahan dan bahkan unggul.
"Secara hitungan produksi, singkong jauh lebih efisien dibanding padi, satu hektar lahan hanya menghasilkan 6–7 ton beras, sedangkan singkong mampu menyumbang 20 hingga 50 ton dalam masa tanam satu tahun," ungkapnya.
Bahkan, harganya pun jauh lebih terjangkau, namun gizinya setara dengan beras, kaya serat, dan rendah kalori dan fakta sudah terbukti saat pandemi Covid-19 melanda, di mana warga Cireundeu tercatat nol persen kasus positif.
“Jangan pernah menganggap masyarakat adat itu kuno atau tertinggal. Justru di sinilah letak kebijaksanaan yang sudah teruji zaman. Anak-anak di sini yang makan singkong terbukti cerdas, ada yang meraih gelar doktor, bahkan ada yang lulus nomor satu di Akpol," sebutnya.
"Bahkan konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini digalakkan pemerintah sebenarnya sudah dipraktikkan lebih dulu di sini,” tegasnya.
Anton mendesak agar pola pangan Cireundeu dijadikan teladan nasional. Jika sekadar 20 persen masyarakat Indonesia beralih mengonsumsi singkong secara bertahap, beban impor beras bisa turun drastis, bahkan di masa depan Indonesia berpotensi menjadi pengekspor beras karena kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi dari sumber pangan lokal.
“Di era efisiensi ini, tradisi Cireundeu menjadi jawaban cerdas untuk ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan penghematan anggaran negara sekaligus,” pungkasnya.***
Editor : JakaPermana
