Antrean Solar di Subang Mengular, ESDM Jabar Klaim Masih Cukup & Telusuri Distribusi
ESDM Jabar mengaku belum menerima laporan adanya kelangkaan BBM di sejumlah daerah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) di Jawa Barat diklaim masih mencukupi, tetapi antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar di Subang dan sekitarnya menjadi persoalan yang perlu ditelusuri. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jabar pun akan berkoordinasi dengan Pertamina, untuk memastikan penyebab kondisi tersebut.
Kepala Dinas ESDM Jabar, Tulus Arifan mengatakan, hingga Selasa (21/10/2026), belum ada laporan kelangkaan BBM di sejumlah daerah. Berdasarkan koordinasi dengan Pertamina, distribusi BBM di Jawa Barat, terutama Bandung Raya, ditopang jaringan pipa yang memungkinkan pasokan mengalir secara berkelanjutan.
"Di Jawa Barat, khususnya Bandung, penyaluran menggunakan jaringan pipa sehingga pasokan terus mengalir. Berdasarkan informasi yang kami terima, ketahanan stok BBM jenis gasoline atau bensin saat ini sekitar enam sampai tujuh hari," ujar Tulus.
Tulus menyebut, sistem distribusi tersebut turut menjaga ketersediaan Pertamax, Pertalite, dan solar di wilayah Bandung Raya. Jawa Barat juga kata dia, dinilai memiliki keunggulan dibandingkan sejumlah provinsi yang masih mengandalkan pengiriman BBM melalui jalur laut dan berpotensi menghadapi hambatan distribusi.
"Terkait kondisi BBM hari ini, di Jawa Barat, pusat penyalurannya berada di Bandung. Karena itu, kondisi Jawa Barat relatif aman. Karena sistem penyaluran BBM di wilayah ini menggunakan pipa. Berbeda dengan beberapa provinsi lain yang masih mengandalkan kapal, sehingga berpotensi mengalami gangguan distribusi," ucapnya.
Meski demikian, jaminan ketersediaan BBM secara umum belum menjelaskan penyebab antrean solar di Subang dan sekitarnya. Dinas ESDM Jabar masih perlu memperoleh informasi terperinci dari Pertamina, mengenai distribusi dan pembagian alokasi BBM di kawasan tersebut.
Tulus menyampaikan, berdasarkan informasi yang diterimanya, ketahanan stok bensin diperkirakan enam hingga tujuh hari jika terjadi gangguan pasokan. Sementara itu, stok solar di Bandung Raya disebut dapat bertahan hingga 13 hari.
"Pasokan terus mengalir melalui sistem pipa. Jadi, ketersediaannya terus terjaga. Namun, jika terjadi gangguan, ketahanan stok yang tersedia diperkirakan bisa mencapai enam sampai tujuh hari. Kalau solar, ketahanannya lebih lama, bahkan mencapai 13 hari berdasarkan informasi yang kami terima," paparnya.
Terkait antrean solar di Subang, Tulus menduga pola distribusi antardaerah, termasuk hubungan pasokan dengan Karawang, perlu dicermati. Kedua wilayah tersebut memiliki keterkaitan kebutuhan, termasuk untuk mendukung aktivitas industri.
"Sepengetahuan saya, Subang memiliki keterkaitan distribusi dengan Karawang, termasuk untuk kebutuhan industri. Saya belum memahami secara terperinci bagaimana pembagian wilayah penyaluran oleh Pertamina," ungkapnya.
Dia menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti persoalan tersebut melalui koordinasi dengan Pertamina. Langkah ini diperlukan untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai pembagian wilayah penyaluran dan kemungkinan kaitannya dengan antrean solar yang terjadi di Subang dan Karawang.
"Tetapi informasi yang kami terima menunjukkan adanya pembagian wilayah atau regional, termasuk yang berkaitan dengan Subang dan Karawang," ucapnya.
Editor : Ahmad Sayuti
