Apa Itu Bibit Siklon Tropis 90S? Fenomena Cuaca yang Berpotensi Jadi Membentuk Badai

Sistem cuaca ini saat ini terdeteksi berada di perairan Samudera Hindia, tepatnya di selatan wilayah Jawa Tengah.

Apa Itu Bibit Siklon Tropis 90S? Fenomena Cuaca yang Berpotensi Jadi Membentuk Badai
Mengenal bibit skinlon tropis 90S

INILAHKORAN.ID - Fenomena bibit siklon tropis 90S menjadi perhatian para ahli cuaca karena berpotensi berkembang menjadi badai tropis dalam waktu dekat. Sistem cuaca ini saat ini terdeteksi berada di perairan Samudera Hindia, tepatnya di selatan wilayah Jawa Tengah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa bibit siklon tropis merupakan tahap awal pembentukan badai tropis. Jika kondisi atmosfer mendukung, sistem ini dapat berkembang menjadi siklon tropis yang memiliki dampak besar terhadap cuaca di sekitarnya.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, menjelaskan bahwa bibit siklon tropis 90S memiliki peluang tinggi untuk meningkat menjadi siklon tropis dalam waktu 24 jam.

Menurut data yang dihimpun melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, sistem ini memiliki tekanan udara sekitar 998 hectopascal dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot.

Bergerak Menuju Perairan Selatan NTB

BMKG memantau bahwa bibit siklon tropis 90S saat ini bergerak ke arah timur. Sistem cuaca tersebut diperkirakan mendekati wilayah perairan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis malam hingga Jumat dini hari.

Meski demikian, kondisi cuaca di wilayah NTB hingga saat ini masih relatif cerah hingga berawan. Hal ini dipengaruhi oleh posisi bibit siklon 90S yang masih berada di selatan Jawa Tengah, sementara sistem lain yakni bibit siklon 93S masih terpantau berada di kawasan barat laut Australia.

Selain posisi sistem, tingkat kelembapan udara di lapisan atas juga masih belum terlalu tinggi sehingga belum memicu pembentukan awan hujan yang signifikan di wilayah tersebut.

BMKG sebelumnya memperkirakan potensi cuaca ekstrem di wilayah NTB pada periode 3 hingga 8 Maret 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh keberadaan dua bibit siklon tropis sekaligus, yakni 90S di selatan Pulau Jawa dan 93S di Samudera Hindia dekat Australia.

Kedua sistem tersebut meningkatkan suplai massa udara basah yang dapat memperkuat pembentukan awan hujan.

Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, serta gelombang Kelvin turut memperkuat proses pembentukan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan lebat.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem.

Beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, hingga sambaran petir.


Editor : Firda Rachmawati