API Bantah 188 Industri Tekstil di Jabar Bangkrut

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) membantah pernyataan Tim Akselerasi Jabar Juara Bidang Ketenagakerjaan. 

API Bantah 188 Industri Tekstil di Jabar Bangkrut

INILAH, Bandung - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) membantah pernyataan Tim Akselerasi Jabar Juara Bidang Ketenagakerjaan. 

"Kata siapa 188 insustri tekstil itu bangkrut? Datanya dari mana? Kalau bulan September, Oktober pasar domestik lesu. Tapi kan pasar ekspor terus berkembang, jadi kelesuan ini memang terjadi pada industri yang orientasinya pasar domestik saja," kata Ketua API Ade Sudrajat, Minggu (6/10/2019).

Menurutnya, angka 188 perusahaan yang hengkang dan gulung tikar serta terdapat 68 ribu buruh di PHK hingga kuartal III 2019 itu terlalu mengada-ada. Dia menegaskan, sepanjang 2019 ini paling banyak ada 10 industri yang gulung tikar atau relokasi. Namun, bangkrutnya pabrik itu tidak dengan jumlah buruh yang mencapai 68 ribu orang buruh yang terkena PHK.

"Kalau data dari 2010 lalu, mungkin ada sebanyak itu jumlahnya. Tapi, sebenarnya dari pada yang tutup masih tetap lebih banyak yang buka. Selain itu ada juga industri yang relokasi. Misalnya dari Kabupaten Bandung relokasi ke Tasikmalaya atau ke Garut karena pertimbangan upah. Dalam dunia industri itu hal yang biasa terjadi," ujarnya. 

Selain itu, kata Ade, melemahnya pasar domestik juga memang dipengaruhi membanjirnya produk tekstil impor dari Cina. Namun demikian, hal tersebut tidak dapat dihalang halangi begitu saja, karena memang sudah menjadi kesepakatan pasar bebas dunia yang tercantum dalam World Trade Organization (WTO). Meski demikian, kata Ade, ada beberapa langkah yang dilakukan pemerintah untuk melindungi pasar dalam negeri dan tidak melanggar kesepakatan WTO yakni dengan menambahkan bea masuk untuk barang impor.

"Ada dua langkah save guard untuk melindungi pasar domestik ini. Yaitu dengan mengenakan bea masuk terhadap barang impor dan industri kita yang orientasinya ekspor harus lebih agresif," katanya.

Disinggung mengenai kondisi mesin industri tekstil dalam negeri yang kebanyakan sudah tua, Ade membenarkan. Hal ini juga yang menyebabkan produk tektil Indonesia sulit bermasaing dengan produk luar. 

Untuk itu, pada tahun depan API telah mengajukan permohonan bantuan pada pemerintah untuk restrukturisasi permesinan industri tektil dalam negeri. Pada tahap pertama, pihaknya mengajukan bantuan senilai Rp25 miliar untuk peremajaan mesin celup dan printing.

"Memang kita harus mengikuti perkembangan zaman. Kita harus mengikuti respons anak muda yang aktif, inovatif, dan modern. Sekarang sudah enggak bisa lagi kita cetak ratusan meter kain dengan satu model dan warna saja, tapi harus bisa cetak dan bikin kain satu warna atau motif cukup 50 meter saja. Enggak bisa lagi produksi masal ratusan yard untuk satu jenis kain. Nah, salah satunya ya harus dilakukan restrukturisasi mesin industri, kita coba dulu pada mesin celup dan printingnya. Soalnya, kalau mesin tenun masih banyak yang bagus kok," jelasnya. (Dani R Nugraha)


Editor : Doni Ramdhani