API dan CCI Edukasi Pelaku Industri Tekstil Tanah Air

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Cotton Council International (CCI) menggelar seminar bertajuk "The Economies of The Mills" oleh Rieter dan “Recent Discoveries about the Quality of US Cotton” oleh Cotton Council International (CCI), bagi para pelaku industri tekstil tanah air, Kamis (27/2/2020) di Hotel Aryaduta, Kota Bandung.

API dan CCI Edukasi Pelaku Industri Tekstil Tanah Air

INILAH, Bandung,- Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Cotton Council International (CCI) menggelar seminar bertajuk "The Economies of The Mills" oleh Rieter dan “Recent Discoveries about the Quality of US Cotton” oleh Cotton Council International (CCI), bagi para pelaku industri tekstil tanah air, Kamis (27/2/2020) di Hotel Aryaduta, Kota Bandung.

Disamping memperkenalkan teknologi tekstil, seminar yang juga hasil kerjasama Rieter India ini diharapkan menjadi sarana edukasi bagi pelaku industri tekstil tanah air, khususnya Jawa Barat. Kegiatan seminar yang menghadirkan sejumlah pembicara ini merupakan kedua kalinya digelar CCI dan API, sekaligus sebagai upaya memperkenalkan keunggulan serat kapas Amerika Serikat di hadapan sejumlah pelaku usaha tekstil Indonesia.

Sebelumnya, Cotton Council International (CCI), yang notabenenya sebagai asosiasi perdagangan nirlaba yang mempromosikan serat kapas Amerika Serikat (AS) dan produk kapas manufaktur di seluruh dunia dengan merek
dagang Cotton USA, menggelar kegiatan serupa di Kota Solo, Jawa Timur.

Perwakilan CCI Indonesia, Dr. Anh Dung Do atau akrab disapa Andy mengungkapkan, kegiatan seminar yang diinisiasi API dan CCI merupakan upaya untuk memberikan edukasi sekaligus mengenalkan pentingnya memilih serat kapas berkualitas.

Disamping itu menurut Andy, seminar juga menjadi bentuk komitmen pihaknya dalam memfasilitasi pertemuan para pelaku industri tekstil. “Kami selalu berkomitmen untuk meningkatkan perhatian publik akan pentingnya kapas berkualitas tinggi, terutama kapas asal AS yang sudah digunakan sebagai material dasar pembuatan bahan dari
berbagai merek fashion dunia, termasuk di Indonesia. Melalui acara seminar ini, CCI berharap para pengusaha lokal dan pabrik-pabrik tekstil di Indonesia juga dapat mendapatkan pengetahuan yang berguna tentang teknologi tekstil dari pakarnya, yaitu Rieter India. Saya harap kedepannya CCI dan API bisa terus bekerjasama dan berkolaborasi dalam memajukan pelaku industri tanah air," ungkapnya di sela kegiatan.

Andy menuturkan, seminar juga merupakan bagian dari komitmen CCI dalam memperkuat industri tekstil
Indonesia dan meningkatkan kesadaran para produsen akan kualitas kapas asal AS dan teknologi yang digunakan dalam industri tekstil di Indonesia maupun di luar negeri.

“Dalam industri ini, sangatlah penting untuk para pabrik tekstil, produsen garmen, hingga pengusaha pakaian mengerti pentingnya menggunakan bahan dan teknologi yang berkualitas untuk proses produksi mereka. Kami sangat mengapresiasi CCI dan komitmennya untuk meningkatkan kesadaran pelaku penting dalam industri ini akan hal itu. API juga akan selalu mendorong mereka untuk terus belajar, karena pemahaman mereka akan industri ini tentunya
akan membawa dampak yang baik untuk perkembangan bisnis mereka," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Bidang Organisasi API Jabar, Kevin Hartanto mengungkapkan, kolaborasi API dan CCI menjadi bagian dalam upaya membuka wawasan pelaku industri tekstil tanah air. Sehingga para pelaku usaha mendapatkan gambaran untuk mengambil langkah apa ke depan, termasuk bagaimana kemudian menyiasati kondisi bisnis tekstil saat ini.

"Ya selama ini asosiasi membantu para pelaku industri dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Di awal tahun misalnya kita juga rutin menggelar seminar atau fashion show terkait trend busana yang akan menjadi tema serta seminar-seminar lainnya. Sehingga diharapkan para pelaku usaha tekstil mendapatkan gambaran," ujarnya.

Kevin menambahkan, dalam acara seminar ini, CCI dan API juga bertujuan untuk membantu mempertemukan beberapa pihak yang berperan penting dalam industri tekstil Indonesia, mulai dari pemerintah, asosiasi tekstil Indonesia, hingga perusahaan tekstil.

“Networking antar pemeran dalam industri tekstil tentunya juga akan membantu para pelaku industri dalam mengembangkan bisnis mereka dan tentunya dalam memilih kain dan teknologi berkualitas yang akan digunakan untuk proses produksi mereka," ujarnya.

Lebih lanjut Kevin menambahkan, kegiatan seminar juga diharapkan dapat menjadi solusi terhadap berbagai peluang dan tantangan yang tengah dihadapi para pelaku industri tekstil Indonesia saat ini. Terlebih tak bisa dipungkiri, impor sampai saat ini masih mendominasi.

Dikatakan Kevin, Asosiasi Perstekstilan Indonesia (API) menilai, untuk menahan serbuan produk impor, diperlukan perbaikan dari hilir ke hulu. “Kita harus kondisikan supaya market dalam negeri ini jangan dikuasi oleh produk impor, harusnya kita perbaiki dari hilir dulu, karena memang tahun lalu belum siap, karena belum siap, petisionernya,” jelasnya.

Menurutnya, kebutuhan bahan baku seperti kapas tidak bisa di produksi di indonesia. “Namanya kapas, memang tidak bisa di produksi, sudah pasti impor. Buat indonesia pemintalan industrinya, kalau punya keleluasaan, dia bisa impor dari manapun, kapas amerika, india, australia, Thailand. Beda dengan China, ada petani kapas, pemerintah China begitu melindungi dalam negeri karena ngurus penduduk 1,6 miliar ini kan harus punya kerja, jadi petani kapas ini harus dipastikan dulu, diserap dulu oleh industri dalam negerinya, kurang, baru impor, dan harganya juga di jaga,” ucap Kevin.

Terkait perubahan status WTO, menurutnya pasti berpengaruh. Jika saat ini Indonesia di kategorikan sebagai negara maju, ekspor dunia akan lebih susah. “Sekarang buktinya, kalau negara maju, safeguare, meskipun pangsa impornya kecil nih ke indonesia, karena kategori negara maju, kita pasti kena. Yang kita ingin negosiasi,” paparnya.

Meski begitu, tentunya ada peluang dan tantangan. “Kalau sekarang kita bicara untuk industri dalam negeri yang orientasi ekspor, itu peluang. Bayangkan sekarang, banyak negara negara yang biasa di suplay dari dari China, mereka mulai nyari nih, kain atau apa salah satu di Indonesia, karena kita kan produsen,” jelasnya.

Sementara Tantangannya, seperti garmen, dimana selama ini eksportirnya garmen, menggunakan kainnya bukan kain dalam negeri. “Sekarang kalau dikejar deadline, harus ekspor tapi bahan bakunya dari China terhambat, pasti kehambat juga dong,” tegas dia. *


Editor : Ghiok Riswoto