APRINDO Siapkan Strategi Transformasi UMKM agar Mampu Bersaing di Ritel Modern
APRINDO mendorong UMKM menguasai AI dan e-commerce sekaligus memperkuat kualitas produk, kapasitas produksi, serta tata kelola agar mampu menembus ritel modern.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kehadiran di platform digital belum cukup untuk membawa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas. Pelaku usaha juga perlu membenahi kualitas produk, memperkuat kapasitas produksi, membangun sistem pengelolaan bisnis, hingga menjamin keamanan transaksi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Penguatan ekosistem digital tersebut menjadi salah satu perhatian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam mendorong UMKM menembus pasar ritel modern. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan e-commerce dinilai perlu berjalan beriringan dengan kesiapan operasional serta tata kelola usaha.
Persoalan tersebut dibahas dalam workshop dan seminar UMKM hari kedua bertajuk UMKM dalam Strategi Transformasi Bisnis. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 yang berkolaborasi dengan Bulan Mutu Nasional. Acara berlangsung secara hybrid di Union Square, Cihampelas Walk, Bandung, Sabtu (7/11/2026).
Wakil Ketua Umum MSMEs & Strategic Affairs Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), E. Alex Chandra, mengungkapkan transformasi digital UMKM harus dibangun melalui tahapan yang terukur. Menurutnya, pelaku usaha tidak bisa hanya berorientasi pada pemasaran daring tanpa memastikan kesiapan bisnis di belakangnya.
Alex memperkenalkan empat fase pengembangan UMKM, yakni Go Digital, Siap Pasar, Omnichannel, dan Tumbuh Aman. Keempat tahapan tersebut menjadi fondasi agar digitalisasi tidak sebatas memperluas promosi, tetapi juga meningkatkan kemampuan usaha dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Pada fase Go Digital, pelaku UMKM perlu membangun kemampuan dasar dalam ekosistem digital. Langkah tersebut mencakup penguatan identitas merek, penyusunan katalog produk, penggunaan pembayaran digital, hingga pemanfaatan AI untuk membuat konten pemasaran.
Namun, kemampuan memasarkan produk harus ditopang kesiapan produksi dan standar mutu. Alex menekankan pentingnya konsistensi kualitas, kemasan informatif, sertifikasi, legalitas usaha, serta rantai pasok yang mampu mendukung keberlangsungan produksi.
“Namun kemampuan memasarkan produk secara digital perlu diimbangi kesiapan operasional. Pada tahap Siap Pasar, UMKM harus memastikan konsistensi kualitas produk, kemasan yang informatif, kelengkapan sertifikasi dan legalitas, serta kesiapan rantai pasok dan standar operasional prosedur (SOP) produksi,” tuturnya.
Setelah memenuhi kesiapan tersebut, UMKM dapat memperluas distribusi melalui strategi omnichannel. Model ini menghubungkan berbagai saluran penjualan, mulai dari gerai fisik, lokapasar, hingga jaringan ritel modern.
Tahapan berikutnya adalah Tumbuh Aman. Pada fase ini, pelaku usaha harus memperhatikan keamanan akun, perlindungan data bisnis, serta potensi risiko dalam transaksi keuangan digital.
Alex menilai kesiapan tersebut menjadi penentu kemampuan UMKM dalam mempertahankan kepercayaan konsumen sekaligus memenuhi permintaan pasar berskala lebih besar.
“UMKM tidak cukup hanya hadir di platform digital. Mereka juga harus memiliki kesiapan produk, kapasitas produksi, dan tata kelola usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Ini penting dari tahapan transformasi,” tegas Alex.
Google Kenalkan Gemini AI untuk Mendukung Bisnis UMKM
Selain penguatan strategi perdagangan elektronik, workshop tersebut juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi Google untuk mendukung aktivitas operasional UMKM.
Hilman Yoswandi dari Google Cloud Indonesia menjelaskan, pelaku usaha dapat memulai digitalisasi melalui langkah sederhana tanpa harus langsung menggunakan sistem teknologi yang kompleks. Pendekatan tersebut diperkenalkan melalui konsep Tangga Digital UMKM.
Salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan adalah Google Business Profile. Melalui layanan ini, informasi usaha dan lokasi bisnis dapat ditampilkan sehingga lebih mudah ditemukan calon pelanggan melalui Google Search dan Google Maps.
Pelaku UMKM juga diperkenalkan dengan Gemini AI yang dapat dimanfaatkan sebagai asisten digital untuk menunjang pekerjaan sehari-hari. Teknologi tersebut dapat membantu pembuatan materi promosi, penyusunan deskripsi produk, penanganan ulasan konsumen, hingga analisis data penjualan.
“Kita mendorong pelaku UMKM memanfaatkan Gemini AI sebagai asisten digital dalam menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari. Teknologi ini dapat membantu pemilik usaha menyusun materi promosi, membuat deskripsi produk, merespons ulasan pelanggan, hingga membantu menganalisis data penjualan,” paparnya.
Tidak hanya untuk pemasaran, digitalisasi juga menyentuh pengelolaan persediaan dan keuangan. Dalam kesempatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan aplikasi Aksesmu yang dapat membantu pemilik warung mencatat transaksi keuangan serta mengelola stok barang melalui telepon seluler.
Penerapan berbagai perangkat digital tersebut diharapkan dapat mempercepat efisiensi usaha, termasuk bagi pemilik warung tradisional yang selama ini masih mengandalkan pencatatan secara konvensional.
Dampak edukasi teknologi tersebut dirasakan langsung peserta workshop. Putri (45), pelaku UMKM asal Bandung yang mengembangkan usaha mochi, mengaku memperoleh pengetahuan baru untuk meningkatkan pemasaran produknya.
Dia terutama tertarik memanfaatkan teknologi AI dalam menyusun deskripsi produk agar lebih menarik sehingga peluang menjangkau konsumen baru semakin terbuka.
APRINDO Perkuat Akses UMKM ke Pasar Ritel
Ketua Panitia Hari Ritel Nasional 2026, FX Yudi Hartanto, mengatakan penguatan kapasitas UMKM menjadi bagian dari upaya APRINDO membangun ekosistem perdagangan yang memberikan ruang lebih besar bagi produk lokal.
Menurutnya, pertumbuhan industri ritel perlu didukung keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, asosiasi, hingga penyedia teknologi. Kolaborasi tersebut penting untuk mempertemukan kebutuhan pasar dengan kemampuan UMKM dalam menghasilkan produk berkualitas.
APRINDO pun berupaya memperluas akses edukasi, pendampingan, dan kolaborasi agar pelaku usaha lokal mampu meningkatkan standar mutu, memperbaiki manajemen bisnis, serta memperkuat akses pemasaran.
Yudi berharap sinergi yang terbangun dalam HRN 2026 tidak berhenti pada penyelenggaraan kegiatan, tetapi dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi UMKM di berbagai daerah.
Rangkaian Hari Ritel Nasional 2026 telah berlangsung sejak 2 November 2026 di Bandung. Agenda tersebut dilanjutkan dengan Festival Produk Lokal Bermutu pada 6–8 November 2026 yang menghadirkan berbagai kegiatan edukasi dan pendampingan bagi pelaku UMKM.
Puncak peringatan HRN 2026 dijadwalkan berlangsung melalui National Summit Hari Ritel Nasional pada 11 November 2026.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, APRINDO mendorong agar transformasi industri ritel turut menjadi kesempatan bagi UMKM untuk memperkuat posisi di pasar. Sebab, kemajuan perdagangan modern tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan jaringan ritel, tetapi juga oleh kemampuan produk lokal memenuhi standar mutu, meningkatkan daya saing, dan menjangkau konsumen yang lebih luas.***
Editor : JakaPermana

