Arae Ecoprint: Inovatif, Green Economy dan Go Global
Lagi asyik-asyiknya usaha roti dengan merek dagang BreaÄiit, lima orang sahabat lainnya harus melakukan banting setir ke usaha ecoprint.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Lagi asyik-asyiknya usaha roti dengan merek dagang BreaÄiit, Ginanjar, Masrur, Deden dan dua orang sahabat lainnya harus melakukan inovasi atau banting setir ke usaha ecoprint.
Hal itu karena usaha roti milik mereka terdampak negatif karena pandemi Covid-19, dimana sekolah-sekolah (kantin) sebagai pasar roti mereka tidak diperbolehkan melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) hingga mereka kesulitan dalam menjual produk rotinya.
Untungnya, Ginanjar atau Gingin sapaan akrabnya selaku pemilik usaha, sebelumnya pada Tahun 2018 lalu mulai belajar produksi kain ecoprint. Bahkan, pada Januari 2020 dia sukses menjuarai kejuaraan desain ecoprint tingkat Jabodetabek. Kain selendang mereka berhasil terjual dalam sistem lelang dengan harga Rp15 juta.
Baca Juga: Setelah Tembus Pasar Nusantara, UMKM Aban Sudrajat Siap Go Global
"Brand Arae Ecoprint itu lahir sejak kami juara satu desain ecoprint tingkat Jabodetabek pada Januari Tahun 2020, karena pandemi Covid-19 usaha roti kami kolaps, akhirnya dengan tekad bulat kami fokus dalam memproduksi kain ecoprint," kata Kepala Produksi Arae Ecoprint Masrur kepada wartawan, Senin 15 November 2021.
Pria asli Bondowoso ini menerangkan, berbeda dengan usaha roti yang cukup sulit dalam menghasilkan keuntungan, produksi kain, kulit atau produk fashion ecoprint hasilnya terbilang sangat mudah dalam menghasilkan keuntungan.
"Kalau usaha roti, mencari keuntungan Rp12 juta dalam sebulan itu cukup sulit. Beda dengan usaha produksi kain, kulit atau produk fashion ecoprint yang keuntungannya terbilang besar karena harganya lumayan mahal. Harga yang terbilang mahal itu kami anggap wajar karena selain kualitas, produk kami dinilai pembeli punya rasa seni yang tinggi," terangnya.
Baca Juga: Yayasan Dimensi Berikan Bantuan Pinjaman Modal Tanpa Bunga Untuk UMKM
Sukses di usaha produksi kain, kulit atau produk fashion ecoprint, bukan berarti Ginanjar dan kawan-kawan pelit akan ilmu. Mereka pun mengadakan pelatihan produksi ecoprint kepada masyarakat umum.
"Masyarakat yang mau ikut pelatihan ecoprint, bisa ikut dengan membayar biaya pelatihan, dimana harganya mulai Rp350-500 ribu per orang. Bagi kami, mereka yang belajar itu bukan saingan usaha tetapi sebagai rekanan," tutur Masrur.
Pria berusia 31 tahun dan ayah satu orang anak ini menjelaskan usaha produksi kain, kulit dan produk fashion ecoprint sangat ramah lingkungan, karena semua bahan baku terbilang alami.
"Dalam proses produksi kain maupun kulit ecoprint, kami menggunakan bahan baku yang alami. Ampas atau limbah ecoprint pun dimanfaatkan sebagai pupuk ragam pepohonan yang kami tanam di perkarangan studio produksi Arae Ecoprint," jelasnya.
Baca Juga: Perluas Pemasaran, Pemkot Bogor Dorong UMKM Tingkatkan Kapasitas Platform Digital
Sementara, Manager Accounting Arae Ecoprint Deden memaparkan kain, kulit dan produk fashion Arae Ecoprint sudah memasuki pasar international, setiap dua bulan sekali Arae Ecoprint mengirimkan produknya ke Singapura.
"Alhamdulillah, Arae Ecoprint sudah go global dan pembayarannya pun melalui aplikasi pembayaran seperti Paypal, Qris dan LinkAja. Dalam memasarkan produk, kami menggunakan sosial media seperti instagram dan facebook. Selain itu, bagi konsumen, juga bisa memesan produk kami di market place blibli," papar Deden.
Dia melanjutkan, karena usaha Arae Ecoprint yang beralamat di Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor ini semakin maju saat ini ada tambahan 25 orang karyawan yang merupakan masyarakat sekitar studio produksi Arae Ecoprint.
Baca Juga: Mantul, Kadin Kota Bogor Akan Kenalkan Produk UMKM ke Pasar Internasional
"Setiap hari ada saja konsumen yang membeli kain, kulit dan produk fashion Arae Ecoprint dengan sistem online hingga sesuai kebutuhan kami pun harus menambah jumlah karyawan hingga mencapai 30 orang. Semuanya betah kerja di sini, karena kami mengedepankan sistem kekeluargaan dan kalau ada keluarga karyawan yang secara mendesak membutuhkan pinjaman uang, kami pun memberikannya secara cuma-cuma sebagai bantuan," lanjutnya.***(reza zurifwan)
Editor : inilahkoran

