AS Soroti Target PLTS 100 GWp Indonesia, Dorong Penguatan Sistem Listrik

AS mendorong penguatan sistem kelistrikan Indonesia agar target PLTS 100 GWp dapat berjalan bersama pembangkit yang andal dan fleksibel.

AS Soroti Target PLTS 100 GWp Indonesia, Dorong Penguatan Sistem Listrik
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Amerika Serikat (AS) mendorong penguatan sistem kelistrikan Indonesia agar ekspansi tenaga surya dapat berjalan seiring dengan ketersediaan pembangkit yang andal dan fleksibel.

Wakil Menteri Energi AS James P. Danly menyoroti target Indonesia membangun kapasitas tenaga surya hingga 100 gigawatt peak (GWp). Menurutnya, angka kapasitas tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan daya efektif yang dapat dihasilkan ketika listrik dibutuhkan.

“Perlu saya sampaikan bahwa kapasitas tenaga surya sebesar 100 gigawatt, pada kenyataannya, memiliki kapasitas efektif yang jauh lebih rendah, yaitu sekitar 15 gigawatt,” kata Danly saat menjawab pertanyaan mengenai peluang keterlibatan AS dalam proyek PLTS 100 GWp Indonesia dalam taklimat media daring di Jakarta, Senin.

Danly menjelaskan, peningkatan kebutuhan listrik membutuhkan dukungan pembangkit yang dapat diandalkan dan dioperasikan sesuai kebutuhan.

Menurutnya, sistem kelistrikan tidak dapat terlalu bergantung pada sumber energi yang produksinya bersifat tidak kontinu. Karena itu, pengembangan Energi Surya perlu diimbangi dengan pembangkit yang mampu menjaga keandalan pasokan listrik.

“Oleh karena itu, Amerika ingin berperan dalam menyediakan bahan bakar dan teknologi yang diperlukan guna memastikan ketersediaan daya beban dasar (baseload power) bagi negara-negara yang ingin memanfaatkan ekspor Amerika,” ujarnya.

AS Tawarkan Teknologi dan Sumber Energi

Danly mengatakan strategi dan kebijakan AS diarahkan untuk membagikan sebanyak mungkin sumber daya energi Amerika kepada negara-negara yang ingin membangun kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan.

Kerja sama tersebut, kata dia, juga dapat dilakukan melalui kemitraan jangka panjang dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.

“Kami berkomitmen untuk membangun hubungan komersial yang kokoh dan sebanyak mungkin, demi memastikan dunia turut merasakan manfaat dari kelimpahan energi Amerika,” kata Danly.

Pernyataan tersebut menunjukkan peluang kerja sama energi antara Indonesia dan AS tidak hanya terkait pengembangan pembangkit Energi Terbarukan, tetapi juga teknologi dan sumber energi yang dapat mendukung keandalan sistem kelistrikan.

Prabowo Targetkan PLTS 100 GWp dalam Tiga Tahun

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS dengan kapasitas total 100 GWp dalam tiga tahun untuk memperkuat kemandirian Indonesia'>Energi Indonesia.

Target tersebut disampaikan Prabowo pada 25 Agustus 2026 saat meresmikan PLTS 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Jembrana, Bali.

“Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main dan target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun,” kata Prabowo.

Pengembangan tenaga surya menjadi bagian dari upaya Indonesia memanfaatkan potensi Energi Terbarukan yang sangat besar.

Indonesia disebut memiliki potensi Energi Surya sekitar 3.294 GWp. Namun, kapasitas PLTS terpasang hingga April 2026 baru mencapai sekitar 1,5 GWp.

Dengan demikian, target 100 GWp tersebut akan menjadi salah satu langkah besar dalam meningkatkan pemanfaatan Energi Surya sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Di sisi lain, catatan AS mengenai kapasitas efektif tenaga surya menegaskan pentingnya pembangunan jaringan dan pembangkit pendukung agar pertumbuhan Energi Surya tetap diikuti keandalan pasokan listrik.***


Editor : JakaPermana