Atap Perpustakaan SDN Citembong Ambruk, Ribuan Ruang Kelas di KBB Ternyata Rusak
Atap perpustakaan SDN Citembong ambruk. Disdik KBB mencatat ribuan ruang kelas PAUD, SD, dan SMP rusak, sementara anggaran rehabilitasi terbatas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Ambruknya atap bangunan perpustakaan SDN Citembong, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat (30/10/2026), membuka kembali persoalan kondisi infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut.
Insiden yang diduga dipicu kondisi struktur bangunan lama yang telah mengalami kerusakan dan diperparah cuaca buruk itu menjadi perhatian sejumlah pihak. Meski belum ada laporan korban jiwa, kejadian tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan peserta didik di sekolah lain yang memiliki bangunan dengan kondisi serupa.
Data inventarisasi Dinas Pendidikan (Disdik) KBB menunjukkan kerusakan fasilitas pendidikan tersebar di berbagai jenjang, mulai dari PAUD, SD, hingga SMP. Ribuan ruang kelas tercatat mengalami kerusakan ringan, sedang, bahkan berat.
Pada jenjang PAUD, dari total 1.853 ruang kelas yang tercatat, hanya 779 unit dalam kondisi baik. Sementara itu, 452 ruang kelas mengalami rusak ringan, 386 ruang rusak sedang, dan 141 ruang masuk kategori rusak berat.
Angka tersebut belum mencakup bangunan penunjang pendidikan seperti perpustakaan, kantor guru, toilet, dan koridor sekolah. Padahal, fasilitas penunjang juga berpotensi mengalami kerusakan yang membahayakan, sebagaimana terjadi pada bangunan perpustakaan SDN Citembong.
Kepala Disdik KBB, Imam Santoso, mengakui kerusakan bangunan sekolah tidak hanya terjadi di SDN Citembong. Hasil peninjauan ke sejumlah sekolah menunjukkan banyak bangunan yang berada di bawah kewenangan Disdik membutuhkan rehabilitasi, mulai dari tingkat sedang hingga berat.
Menurutnya, Disdik telah menetapkan skala prioritas untuk menangani bangunan yang paling berisiko terhadap keselamatan siswa. Namun, keterbatasan anggaran daerah membuat perbaikan harus dilakukan secara bertahap.
"Artinya, ruang-ruang kelas yang sudah rusak sedang bisa menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelum mendapatkan perbaikan, sehingga risiko kerusakan bertambah parah dan menimbulkan bahaya serupa seperti yang terjadi di SDN Citembong tetap terbuka," kata Imam, Rabu (4/11/2026).
Ribuan Ruang Kelas SD dan SMP Juga Rusak
Pada jenjang SD, dari total 5.041 ruang kelas di KBB, hanya 1.393 ruang yang tercatat dalam kondisi baik. Sebanyak 1.455 ruang mengalami rusak ringan, 1.481 ruang rusak sedang, dan 712 ruang masuk kategori rusak berat.
Kondisi serupa juga ditemukan pada jenjang SMP. Dari total 2.024 ruang kelas, sebanyak 670 unit dalam kondisi baik, 319 ruang rusak ringan, 755 ruang rusak sedang, dan 77 ruang rusak berat. Selain itu, terdapat tiga ruang kelas yang sudah masuk kategori rusak total.
"Kerusakan tingkat sedang menjadi titik paling krusial, sebab jika dibiarkan tanpa penanganan tepat waktu kerusakan akan merembet menjadi kerusakan berat dan menimbulkan ancaman nyata bagi keselamatan siswa serta tenaga pendidik saat proses belajar-mengajar berlangsung," tegasnya.
Imam menjelaskan, kerusakan ringan secara umum masih dapat ditangani menggunakan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) masing-masing sekolah.
Sementara itu, kerusakan sedang dan berat, termasuk bangunan penunjang seperti perpustakaan, membutuhkan anggaran lebih besar. Penanganannya juga diharapkan dapat didukung melalui program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat.
"Kendalanya, hingga saat ini Disdik KBB belum memiliki angka kebutuhan anggaran menyeluruh untuk memperbaiki keseluruhan fasilitas pendidikan yang rusak. Data yang ada saat ini baru sebatas pencatatan kondisi ruang kelas saja, belum mencakup pemeriksaan teknis struktur bangunan secara detail ke seluruh titik sekolah," ungkapnya.
Disdik Siapkan Pemeriksaan Struktur Bangunan
Untuk memperoleh perhitungan kebutuhan biaya rehabilitasi yang lebih akurat, Disdik KBB berencana menerjunkan tim perencanaan guna memeriksa struktur bangunan satu per satu di sekolah-sekolah terdampak.
Data kerusakan sekolah juga masih dinamis karena sejumlah sekolah telah mulai menerima bantuan perbaikan melalui program revitalisasi yang sedang berjalan.
"Pembaruan data lewat Data Pokok Pendidikan (Dapodik) akan dilakukan beberapa bulan ke depan agar pemerintah daerah memiliki gambaran kondisi terbaru ruang kelas dan bangunan sekolah sebelum menyusun usulan anggaran rehabilitasi untuk tahun berikutnya," ucapnya.
Meski proses verifikasi data masih berlangsung, Imam menegaskan sekolah dengan kondisi bangunan yang secara langsung membahayakan keselamatan siswa akan ditempatkan pada urutan teratas skala prioritas Disdik KBB, sepanjang anggaran untuk penanganan darurat tersedia.***
Editor : JakaPermana

