INILAH, Depok - Ilmu matematika merupakan materi yang penting untuk dikuasai siswa. Pasalnya dalam materi yang diajarkan, matematika rupanya membuat siswa untuk mampu berpikir berdasarkan logika.
Namun saat ini matematika sepertinya masih menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Alih-alih mereka mampu mempelajarinya di dalam kelas, malahan membuat mereka menyerah duluan sebelum memulainya.
Rektor Universitas Indonesia, Muhammad Anis mengatakan, untuk membuat siswa menyukai matematika maka materinya harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Sudah bukan zamannya siswa dijejali rumus-rumus di ruang kelas, melainkan materinya harus disampaikan secara kontekstual.
"Misalnya, satu benda kubus kita hitung dengan panjang kali lebar, tapi kalau kubusnya benjol lalu bagaimana? Matematika bisa disampaikan dalam bentuk game, atau game digabungkan dengan teori," kata Anis kepada wartawan ditemui usai deklarasi Gerakan Nasional Berantas Buta Matematika (Gernas Tastaka) di Perpustakaan Lama Universitas Indonesia, Depok, Minggu (11/11).
Pengamat pendidikan Indra Charismiadji di tempat yang sama mengatakan, yang perlu diperbaiki dari penyampaian mata pelajaran matematika yakni dengan mengembalikan pemahaman guru untuk tidak fokus mengajarkan materinya saja tetapi bagaimana agar siswa memiliki kompetensi di bidang matematika.
Selain itu guru, orang tua, dan siswa juga harus mulai menghilangkan paradigma 'pendewaan' angka-angka nilai yang didapatkan siswa. Sebab pada kenyataannya nilai telah terbukti bukanlah patokan yang konsisten dalam mengukur kecerdasan anak, di samping setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda.
Senada dengan Anis, Indra juga setuju pengajaran matematika dilakukan secara kontekstual. Sebab dengan begitu siswa akan menjadi lebih mudah untuk memahami dan ilmu yang dikuasai akan berguna dalam kehidupannya sehari-hari.
Namun demikian, untuk mulai menerapkannya Indonesia disebut masih memiliki tantangan yang lumayan berat mulai dari kondisi guru yang belum paham sampai kepala daerah yang menjadikan prestasi di bidang pendidikan sebagai kepentingan politiknya, seperti target lulus Ujian Nasional 100%.
Jika dibandingkan dengan negara lain bisa dikata posisi negara kita masih berada di bawah. Bahkan ada penelitian dari negara luar yang menyebutkan anak Indonesia hanya sebatas pergi ke sekolah namun tidak belajar di sana. Namun hal itu semestinya menjadi campur bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan.
"Mata pelajaran Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM) itu memang membuat semua hal menjadi kontekstual. Tidak lagi sebatas teoritis," ujar Indra.