Bahar Malaka, Seniman Otodidak Asal Cimahi yang Menggali Makna di Kesenian yang Terus Mengalir
Di sudut sunyi Kota Cimahi, di balik teras rumah yang kerap dipenuhi alunan reggae pelan, hidup seorang pelukis yang menjadikan kanvas sebagai jembatan antara waktu, pengalaman, dan keyakinan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di sudut sunyi Kota Cimahi, di balik teras rumah yang kerap dipenuhi alunan reggae pelan, hidup seorang pelukis yang menjadikan kanvas sebagai jembatan antara waktu, pengalaman, dan keyakinan.
Dialah Bahar Gunawan, yang lebih akrab disapa Bahar Malaka. Pria berusia 63 tahun dengan rambut gimbal yang seolah menjadi bendera kebebasannya sebagai seniman yang hidup menurut caranya sendiri.
Tak pernah terencana, jalan menuju seni lukis datang seperti aliran sungai yang menemukan jalannya sendiri. Seperti anak-anak pada umumnya, masa kecilnya penuh impian menjadi guru atau dokter, namun hidup membawanya ke peta yang tak terbayangkan.
"Aku kebetulan mengalir dengan sendirinya. Semakin banyak yang dipelajari, semakin banyak ruang yang ditemukan dalam seni murni," kata Bahar.
Perjalanan itu jauh dari mulus. Awalnya, sanggahan dan pandangan miring selalu menyertai langkahnya. Tanpa latar pendidikan formal seni rupa, ia menempuh jalur otodidak belajar dari jalanan, pertemuan, dan pengamatan yang tak berujung.
"Saya tidak terpenjara oleh sistem. Saya bebas, saya mengalir, saya melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak saya terpikirkan," ungkapnya.
Hingga hari ini, aktivitas berkeseniannya tak terbebani tekanan dari siapapun. Hambatan, bagi Bahar, bukanlah halangan melainkan sumber kekuatan.
"Hambatan itu salah satu jadi kekuatan untuk kita melepaskan diri dari hambatan tadi," jelasnya sambil menyeruput kopi hitam yang setia menemaninya.
Melukis bagi Bahar adalah proses pencarian tanpa akhir, pergulatan batin yang mengubah yang maya menjadi nyata di atas kanvas.
"Yang tadinya maya, tapi sakitnya itu jadi nyata, jadi sebuah karya," katanya.
Ia tak pernah terjebak kehilangan mood, sebaliknya ia mengajak untuk membangun ide karena tanpa narasi, seni hanya akan menjadi hiasan dinding yang kosong.
"Seni lukis itu jika tidak ada filosofinya, hanya kerajinan saja," ucapnya.
Di antara karyanya, ada potret Ir. Soekarno yang ia buat sebagai tanda terima kasih. Bukan untuk menampilkan kehebatan, tapi untuk mengapresiasi peran Bung Karno dan para pendiri bangsa dalam menyatukan 17.000 pulau Nusantara.
"Saya bangga, mereka bisa menyatukan menjadi NKRI ini," ujarnya.
Pria paruh baya itu mengaku pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika menciptakan 17 lukisan dalam waktu 45 menit, simbol tahun kemerdekaan untuk Kota Cimahi.
Karya itu pun terjual, dan ia berbagi hasilnya dengan teman-teman, pemusik, bahkan security.
"Untuk siapa? untuk Cimahi. Orang saya tinggal di Cimahi," katanya.
Bahar tidak terobsesi pada hasil akhir. Baginya, yang terpenting adalah hidup dan berproses yang cantik. Meskipun menyadari keterbatasannya sebagai otodidak, namun ia percaya energi dan semangat seniman abadi, meskipun zaman berubah.
"Fokus dan tidak setengah-setengah. Kebebasan dalam berkarya lahir ketika kita tidak merasa terpenjara oleh ketakutan akan saingan," imbuhnya.
Pencapaian terbesar yang ia dambakan bukan pameran atau penjualan karya, melainkan masih diberi kesempatan bangun pagi dan mencipta.
Kepada seniman muda, ia menasihati agar tidak takut pada sistem, fasilitas bisa dicari, tapi kreativitas harus digali.
"Karyamu itu salah satu anugerah yang Tuhan beri, tidak semua orang mendapatkannya," pesannya.
Editor : Doni Ramdhani


