Bakal Jadi Wisata Kota Tua, Ternyata Ini Sejarah Padalarang di Masa Kolonial Belanda
Kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, ternyata menyimpan catatan sejarah penting di Arsip Nasional. Apa saja?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, ternyata menyimpan catatan sejarah yang penting bagi arsip nasional.
Pasalnya, berbagai bangunan peninggalan kolonial Belanda menjadi saksi bisu hadirnya sistem pemerintahan kolonial Belanda di Bandung Barat.
Melihat potensi tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat bekerja sama dengan perguruan tinggi bakal menjadikan kawasan Padalarang sebagai destinasi wisata kota tua.
Baca Juga: Banyak Bangunan Peninggalan Belanda, Wacana Wisata Kota Tua di Padalarang Mencuat
Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan pada Disparbud Bandung Barat, Asep Diki Hidayat mengatakan, berdasarkan analisa dan proyeksi dari LSM Indonesia Hidden Heritage (IHH) Jakarta dan Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung menilai, kawasan Padalarang bisa menjadi wisata kota tua seperti yang ada di Jakarta dan Semarang.
"Mereka menyebut ini bisa menjadi potensi wisata kota tua. Hanya memang perlu kolaborasi dari berbagai pihak, yakni dengan konsep pentahelix," kata Asep Diki Hidayat pada Senin, 4 Oktober 2021.
Asep Diki Hidayat menerangkan, di masa kolonial Belanda kawasan Padalarang merupakan hunian bagi para pejabat kolonial di masa itu, bahkan Padalarang juga kala itu disebut kota satelit.
Baca Juga: Menyedihkan, Angkutan Delman Tagog Padalarang Nasibmu Kini....
"Hal itu lantaran Padalarang ini dijadikan daerah penunjang pusat pemerintahan Hindia Belanda, yakni Kota Bandung," terangnya.
Selain itu, sebut dia, dilihat dari lokasi berdirinya PT Kertas Padalarang yang dekat dengan Stasiun Padalarang. Menurutnya, ini adalah sebuah skema yang dibuat Belanda kala itu, agar pendistribusian bahan baku kertas bisa mudah dilakukan.
"Artinya, ini adalah skema yang dilakukan untuk mempermudah PT Kertas dalam mendapat dan mendistribusikan bahan bakunya," sebutnya.
Baca Juga: Tak Hanya Pasar, Hengky Usulkan Pasar Tagog Padalarang Punya Bioskop
Seperti diketahui, PT Kertas Padalarang (PTKP) didirikan pada tanggal 22 Mei 1922 dengan nama NV Papier Fabriek Padalarang yang merupakan cabang dari NV Papier Fabriek Nijmegen di negeri Belanda.
Pabrik ini merupakan pabrik kertas pertama di Indonesia. Pada tahun 1939 didirikan pabrik kertas Leces di Probolinggo, Jawa Timur, yang merupakan cabang dari NV.
"Papier Fabriek Padalarang PTKP dalam pengembangan usahanya mengarah pada industri berwawasan lingkungan dengan spesialisasi memproduksi kertas-kertas security," beber Asep Diki Hidayat.
Tak hanya itu, ketersediaan air untuk produksi kertas di kawasan Padalarang juga dinilai sangat baik. Pasalnya, PT Kertas di Indonesia hanya ada dua, yaitu di Padalarang dan di Leces Malang.
"Kedua daerah tersebut memiliki suplai ketersediaan air yang bagus karena topografi wilayahnya mirip dengan di Padalarang," ucapnya.
Selanjutnya, kata dia, Gedong Lima bisa dibilang sebagai rumah dinas para pejabat kolonial Belanda di masa itu, yakni sekitar tahun 1900-an, karena teknologi kertas sudah berkembang di tahun itu.
"Untuk Gedung Kewedanan Padalarang (sekarang Gedung DPRD KBB) kala itu digunakan sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda yang mencakup beberapa daerah, seperti Cipatat dan Batujajar masuk ke situ," bebernya.
Oleh karenanya, tambah Asep Diki Hidayat, pihaknya bakal segera melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan pihak Itenas Bandung untuk mulai melakukan kajian.
"Jadi nanti antara Kepala Dinas Parbud dan Rektor Itenas melakukan MoU agar analisa dan pengkajian bisa segera dilakukan," pungkasnya.***(Agus Satia Negara)
Editor : inilahkoran


