Bandara Husein Dibuka Lagi, Abu Vulkanik Masih Pengaruhi Kualitas Udara Kota Bandung

Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung kembali dibuka setelah sempat terdampak sebaran abu vulkanik.

Bandara Husein Dibuka Lagi, Abu Vulkanik Masih Pengaruhi Kualitas Udara Kota Bandung
Muhammad Farhan menyampaikan kondisi terbaru Bandara Husein Sastranegara dan kualitas udara Kota Bandung yang masih terdampak sisa abu vulkanik. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung kembali dibuka setelah sempat terdampak sebaran abu vulkanik. Meski operasional penerbangan kembali berjalan, kualitas udara Kota Bandung masih berada dalam kategori tidak sehat akibat tingginya partikel PM2,5.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, Bandara Husein sudah dinyatakan kembali terbuka bagi penerbangan. Pembukaan ini menjadi bagian dari konsep ekosistem penerbangan yang menghubungkan Cengkareng, Halim, Husein dan Kertajati.

"Alhamdulillah, Bandara Husein Sastranegara hari ini sudah dinyatakan kembali terbuka bagi penerbangan," kata Farhan, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan pentingnya konsep ekosistem penerbangan antarbandara. Saat terjadi gangguan akibat abu vulkanik, sejumlah penerbangan bisa dialihkan dan menggunakan Bandara Kertajati sebagai bandara cadangan.

"Kemarin juga banyak penerbangan yang menggunakan Kertajati sebagai bandara cadangan. Artinya, konsep yang sejak awal kami bahas mengenai ekosistem industri penerbangan Cengkareng, Halim, Husein dan Kertajati terbukti sangat berguna," ucapnya.

Meski Husein kembali dibuka, kewaspadaan terhadap abu vulkanik masih diperlukan. Farhan menyebut, secara visual abu sudah tidak terlihat di permukaan Kota Bandung. Pada ketinggian hingga 10.000 meter juga tidak ditemukan abu vulkanik.

Namun AirNav masih memberikan peringatan kepada pilot, mengenai kemungkinan keberadaan awan abu vulkanik di wilayah informasi penerbangan atau flight information region (FIR). Peringatan itu menjadi perhatian saat pesawat melakukan kedatangan maupun keberangkatan.

"Notifikasi yang disampaikan sekitar pukul 04.00 WIB menyebutkan operasi bandara sudah dapat dilanjutkan, tetapi pilot tetap diminta berhati-hati saat kedatangan dan keberangkatan," ujar dia.

Di sisi lain, kondisi kualitas udara Kota Bandung masih belum sepenuhnya pulih. Dia mengatakan, kualitas udara masih dipengaruhi kondisi dari hari sebelumnya dan berada dalam kategori tidak sehat, terutama pada parameter PM2,5.

"PM2,5 menunjukkan keberadaan partikel mikro. Dalam kondisi saat ini, partikelnya kemungkinan berasal dari sisa abu vulkanik," jelasnya.

Farhan menjelaskan, parameter lain seperti karbon monoksida dan nitrogen masih berada pada kondisi rendah. Kondisi itu menunjukkan persoalan kualitas udara saat ini, lebih terlihat pada keberadaan partikel mikro.

"Kalau melihat PM2,5, partikelnya cukup besar dan kemungkinan berasal dari abu vulkanik. Sementara parameter seperti SO2, CO, O3, NO2 dan HC yang berkaitan dengan kendaraan maupun sumber polusi lainnya masih berada dalam kondisi rendah," tutur dia.

Melihat kondisi itu, dia mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker terutama anak-anak sekolah. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi, selama kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat.

Sementara itu, upaya pembersihan abu vulkanik di sejumlah ruas jalan dinilai cukup efektif. Farhan menyebut, saat ini belum diperlukan penyemprotan tambahan karena penanganan yang sudah dilakukan dinilai membantu mengurangi sisa debu di permukaan.

"Sampai hari ini, secara visual di permukaan sudah tidak terlihat lagi abu vulkanik," ucapnya.

Dia juga meminta kepala sekolah memastikan lingkungan sekolah dibersihkan dari sisa debu. Langkah ini dinilai penting, karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian selama kondisi udara belum kembali normal.

Di tengah situasi itu, Farhan menilai konsep ekosistem penerbangan Cengkareng, Halim, Husein dan Kertajati perlu terus dikembangkan. Pengembangan konsep itu, perlu didukung kajian ilmiah agar sistem penerbangan antarbandara semakin kuat menghadapi gangguan.

"Saya kira Prof Tata bisa langsung berdiskusi dengan Menteri Perhubungan mengenai pengembangan konsep ini. Pemerintah Kota Bandung akan mengikuti dan mendukung prosesnya," tandas dia.


Editor : Doni Ramdhani