Menelisik Keramat Batu Lonceng di Desa Suntenjaya Lembang

Konon, kawasan sekitar Desa Suntenjaya Lembang, KBB dulunya merupakan wilayah kekuasaan raja dari Galuh bernama Ciungwanara.

Menelisik Keramat Batu Lonceng di Desa Suntenjaya Lembang
Keramat Batu Lonceng di Desa Suntenjaya Lembang,KBB.

INILAHKORAN, Ngamprah - Konon, kawasan sekitar Desa Suntenjaya Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dulunya merupakan wilayah kekuasaan raja dari Galuh bernama Ciungwanara.

Namun, masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan nama Sunan Dalem Margataka. Sebagai seorang raja, Ciungawanara tentunya suka berkeliling ke berbagai wilayah kekuasaannya.

Hal itu dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi rakyat yang dipimpinnya. Salah satu tempat yang dikunjunginya yakni Desa Suntenjaya atau lebih tepatnya sekarang dikenal dengan Keramat Batu Lonceng.

Baca Juga: Jadi Ketua IKA FISIP Unpas, Adiyana Siap Kolaborasi dan Kembangkan Potensi Alumni Nyunda, Nyantri dan Nyakola

Pamong Budaya Ahli Muda Sub Koordinator Sejarah & Cagar Budaya pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB Asep Diki Hidayat mengatakan, Keramat Batu Lonceng merupakan sebutan masyarakat Desa Suntenjaya untuk sebongkah batu yang dikeramatkan.

"Bentuknya mirip tubuh manusia yang tengah bersemedi atau bertapa," katanya, Minggu 20 Februari 2022.

Dia menjelaskan, Batu Lonceng dikeramatkan lantaran dulunya bisa mengeluarkan suara lonceng dan mengeluarkan sinar. Sebenarnya, Batu Lonceng yang dikeramatkan warga tersebut merupakan prasasti peninggalan kerajaan Padjadjaran yang ditemukan sekitar abad ke-16.

"Bentuknya berupa batu seperti lonceng dengan diameter 80 cm dan tinggi 50 cm," jelasnya.

Baca Juga: Semenjak Pandemi, Produksi Perajin Tusuk Sate di Kutawaringin Menurun

Lebih lanjut dia menjelaskan, posisi objek tersebut berada di timur laut atau sekitar 22 kilometer dari ibu kota KBB dan berada pada area bukit seluas 250 meter.

"Posisi makam atau patilasan Ciungwanara atau Sunan Dalem Margataka ditandai dengan adanya pohon besar (kalimorot)," jelasnya.

Kemudian, di sebelah utara terdapat sebuah saung tempat berziarah yang atapnya menyatu dengan patilasan Sunan Dalem Margataka dan di dalamnya terdapat batu pipih berbentuk kujang dengan posisi tegak.

"Masyarakat setempat menyebutnya Batu Kujang," ujarnya.

"Masyarakat mengartikan Batu Kujang sebagai senjata, termasuk juga Batu Lonceng yang dianggap sebagai sebuah gada," pungkasnya. (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran