Mudik Lebaran 2022 Momen Penting Bagi Mahasiswa Bandung

Setelah dua tahun dilanda musibah pandemi Covid-19, akhirnya Pemerintah memperbolehkan masyarakat untuk melaksanakan Lebaran

Mudik Lebaran 2022 Momen Penting Bagi Mahasiswa Bandung
ilustrasi arus mudik
 
INILAHKORAN, Bandung - Setelah dua tahun dilanda musibah pandemi Covid-19, akhirnya Pemerintah memperbolehkan masyarakat untuk melaksanakan Lebaran dan berkumpul bersama keluarga.
 
Melihat hal tersebut, Dosen Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas) Erik Rusmana menyoroti mudik lebaran tahun ini. 
 
Dia mengatakan, mudik tahun 2022 merupakan momen penting bagi para perantau pendidikan, yakni mahasiswa dan mahasiswi.
 
 
Terutama bagi mereka yang terjebak dengan dinamika kebijakan kampus semasa pandemi, antara luring dan daring. 
 
Mahasiswa yang sudah kadung atau terlanjur ada di perantauan tapi mendapatkan kebijakan kampus yang masih menjalankan perkuliahan secara daring mungkin tahun 2022 menjadi momen yang penting. 
 
"Kata 'mudik' hanya dipakai ketika menjelang liburan lebaran atau Idul Fitri. Setiap perantau bisa saja pulang ke kampung halamannya setiap saat, tapi mudik hanya ada pada saat menjelang Idul Fitri," ujar Erik Rusmana, Rabu 27 April 2022.
 
 
Menurut dia, pemerintah yang memperbolehkan warga untuk mudik pada tahun 2022 ini seakan membawa angin segar bagi para perantau. Para pekerja, atau mahasiswa pasti sudah mempersiapkan jauh hari untuk bisa kembali ke kampung halaman. 
 
Dengan kemudahan pada era sekarang, lanjut dia, masyarakat sudah tidak dipusingkan lagi dengan pembelian tiket yang harus mengantri sejak dini. Dengan sistem pembelian secara daring, diharapkan bisa meminimalisir praktik percaloan yang mencekik para pemudik. Bagi mahasiswa, tentu sistem daring sudahlah menjadi keseharian mereka. 
 
Bagi generasi sebelumnya tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri. Mahasiswa di indonesia bukan saja mahasiswa yang berasal dari Indonesia semata. 
 
 
"Jika di Universitas Pasundan, di Prodi Sastra Inggris, khusus mahasiswa asing ada yang berasal dari Turki atau Kirgistan, dan biasanya mereka tidak melakukan mudik setiap tahun, meskipun sebenarnya itu bukan keinginan mereka," ucap Erik.
 
Kata dia, mudik merupakan sebuah tradisi di Hari Idul Fitri, tak terkecuali bagi mahasiswa. Maka, bisa disaksikan jika daerah permukiman yang dekat dengan kampus biasanya akan terasa sangat sepi karena sebagian penduduknya yang berstatus mahasiswa memilih atau memaksakan pulang kampung. 
 
Tak peduli dengan peluh dan lelah, atau macet di jalan ketika akan mudik. Satu hal yang akan membuat mereka mudik adalah kewajiban akan bertemu dengan keluarga terkasih.
 
 
"Tepat sebelum Hari Raya Idul Fitri mereka harus sudah berada di rumah keluarga, dan tepat di hari Idul Fitri mereka akan bersilaturahmi dan meminta maaf pada semuanya, dan itulah momen yang harus dijaga trahnya, itulah tradisi, itulah Indonesia," imbuhnya.
 
Menurut dia, kini saatnya mahasiswa kembali berpulang ke kampung halaman, merasakan nikmat dan hangatnya berkumpul bersama keluarga. 
 
"Selamat pulang ke udik bagi para perantau pendidikan, baik dalam dan luar negeri, mari kita terus jaga tradisi silaturahmi dengan yang terkasih di Idul Fitri 1443 H ini," pungkasnya. *** (okky adiana)


Editor : inilahkoran