Bandung Selatan Terancam Krisis Air, FK3I Soroti Alih Fungsi Hutan dan Rawa
FK3I Jabar mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait kondisi mata air, tangkapan air, sempadan sungai, hingga rawa di kawasan Pacira Kabupatan Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jabar mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait kondisi mata air, daerah tangkapan air, sempadan sungai, hingga rawa gunung di kawasan Pacira (Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali), Kabupaten Bandung.
Hasil identifikasi lapangan yang dilakukan selama dua pekan menunjukkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan yang berdampak langsung terhadap berkurangnya debit sejumlah mata air di wilayah Bandung Selatan.
Dewan Pengawas FK3I Jabar Riki Rohimat Effendi mengatakan, mata air merupakan salah satu indikator penting kesehatan lingkungan. Dari sejumlah lokasi yang ditinjau, masih terdapat kawasan yang kondisi vegetasinya terjaga sehingga kualitas dan debit air relatif stabil.
“Di kawasan Punceling, Citeguh, Alamendah hingga Rancabali, mata air masih terjaga karena tutupan vegetasinya baik. Airnya dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan pertanian warga,” kata Riki di Pasirjambu, Minggu (12/7/2026).
Namun kondisi berbeda ditemukan di sejumlah titik di kawasan Patuha. FK3I mencatat banyak mata air mengalami penurunan debit akibat rusaknya daerah tangkapan air.
Menurut Riki, salah satu faktor utama yang memicu kerusakan tersebut adalah aktivitas pertanian yang semakin masif, termasuk di kawasan yang berstatus hutan lindung.
Dia mencontohkan adanya areal sekitar empat hektare di wilayah Perhutani Ciwidey yang dimanfaatkan untuk budidaya stroberi. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi mengurangi fungsi kawasan sebagai daerah resapan air.
“Ketika kawasan hutan lindung dibuka untuk aktivitas pertanian secara masif, maka fungsi ekologisnya akan terganggu. Kami juga menemukan adanya bukaan lahan baru yang berpotensi memperparah kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Selain mata air, FK3I juga menyoroti kondisi sejumlah rawa gunung yang berperan penting sebagai penyimpan air alami. Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain Rawa Cipadaruum di Patuha, Rawa Ciparahu di Punceling, serta kawasan rawa di Rancaupas.
Dari hasil identifikasi, ditemukan indikasi pengeringan rawa untuk kepentingan pertanian dengan membuat kanal atau saluran pembuangan air. Praktik tersebut menyebabkan air tidak lagi tertahan di kawasan rawa sehingga permukaan tanah menjadi kering.
Di beberapa titik, tim FK3I juga menemukan penggunaan herbisida untuk membersihkan vegetasi rawa. Kondisi serupa disebut terjadi di kawasan wisata Rancaupas dan sejumlah blok di wilayah KHDPK Perhutanan Sosial.
“Rawa seharusnya menjadi penyangga air. Ketika dikeringkan untuk pertanian, fungsi ekologisnya hilang dan dampaknya akan dirasakan pada ketersediaan air di masa depan,” katanya.
Riki menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Perhutani, KHDPK, Perhutanan Sosial, Palawi hingga pemerintah daerah.
FK3I Jabar, lanjutnya, akan terus mendorong koordinasi dan langkah perbaikan guna menjaga keberlangsungan sumber daya air di kawasan Bandung Selatan. Terlebih, ancaman pemanasan global dan musim kemarau berkepanjangan dinilai semakin meningkatkan risiko krisis air apabila kerusakan lingkungan terus terjadi.
“Kita tidak boleh terus menjadi korban dari kerusakan lingkungan. Pelestarian mata air, hutan lindung dan rawa gunung harus menjadi tanggung jawab bersama agar keberlanjutan sumber air tetap terjaga,” ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani

