Banyak Anak Banyak Rezeki, di Sini Wanita Punya 10 Anak Dikasih Bonus Rp250 Juta
Banyak anak banyak rezeki. Ibu-ibu di Rusia bakal dapat hadiah Rp250 juta dari Presiden Vladimir Putin. Syaratnya: mereka punya 10 orang anak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Moskow – Banyak anak banyak rezeki. Ibu-ibu di Rusia bakal dapat hadiah Rp250 juta dari Presiden Vladimir Putin. Syaratnya: mereka punya 10 orang anak.
Perang di Ukraina membuat Vladimir Putin membangkitkan kembali strategi yang pernah dilakukan Joseph Stalin itu. Pasalnya, perang tersebut membuat puluhan ribu tentara Rusia kehilangan nyawa.
Vladimir Putin telah menghidupkan kembali penghargaan lama dari era Soviet yang diberikan kepada wanita yang memiliki 10 anak atau lebih.
Penghargaan itu dibuat kembali setelah populasi Rusia berubah bentuk menyusul hilangnya pasukan di Ukraina.
Wanita yang melahirkan anak yang ke-10 akan diberi bonus satu juta rubel atau sekitar Rp250 juta untuk upaya mereka.
Pada tahun 1944, Stalin memperkenalkan penghargaan "Mother Heroine" untuk merayakan dan mendorong mereka yang membesarkan keluarga besar.
Jutaan warga Soviet terbunuh dalam kengerian Perang Dunia II, membuat Uni Soviet sangat membutuhkan generasi muda baru.
Pada saat Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet runtuh, sekitar 400.000 wanita dilaporkan telah memenangkan penghargaan tersebut.
Dalam aturan baru Putin, uang itu hanya dibayarkan pada kelahiran anak ke-10 jika sembilan anak sebelumnya semuanya hidup.
Pada tahun 2008, penghargaan Parental Glory diciptakan untuk keluarga yang memiliki tujuh anak atau lebih. Mereka dibayar 700.000 rubel.
Statistik negara Rusia saat ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa dalam 20 tahun ke depan, 144 juta populasi saat ini dapat menyusut menjadi hanya 132 juta.
Data yang sama mengatakan antara Januari dan Juni berkurang sekitar 380.000 orang yang tinggal di Rusia.
Sementara jumlah pasti korban tewas perang di Ukraina tidak diketahui, puluhan ribu diperkirakan telah kehilangan nyawa mereka.
Menurut Times, usia rata-rata mereka yang tewas sebagai bagian dari "operasi khusus" hanya 21 tahun.
Ratusan ribu lainnya dikatakan telah beremigrasi dari negara itu sejak kekerasan dimulai.***
Editor : Zulfirman

