Batu Besar dari Semeru Masih Panas, Keluarkan Asap Saat Disiram Air di Pronojiwo

Viral bongkahan batu besar yang terbawa awan panas saat erupsi Semeru mengeluarkan asap ketika disiram air.

Batu Besar dari Semeru Masih Panas, Keluarkan Asap Saat Disiram Air di Pronojiwo
bongkahan batu besar pasca erupsi Semeru

INILAHKORAN - Warga Desa Sumbersari, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, dibuat waspada setelah sejumlah bongkahan batu besar diduga material erupsi Gunung Semeru ditemukan berserakan di area pemukiman. 

batu-batu tersebut bahkan masih mengeluarkan asap saat disiram air, menandakan suhunya masih sangat panas.

Dalam video yang diunggah akun Instagram trip_pedesaan, terlihat bongkahan batu berukuran besar memenuhi aliran sungai dan tepi permukiman. 

Saat salah satu batu disiram, muncul kepulan asap tipis yang menandakan batu tersebut masih menyimpan panas dari guguran material vulkanik.

Lokasi temuan berada di sekitar Desa Sumbersari, wilayah yang berada di jalur aliran lahar panas dan berjarak tidak jauh dari puncak Semeru

Warga setempat menyebut material besar itu terbawa dari atas melalui aliran sungai setelah erupsi yang terjadi beberapa hari terakhir.

“Bongkahan batu besar dan panas dari Semeru tergeletak di perkampungan warga,” tulis pengunggah video.

Kehadiran batu-batu besar ini menjadi indikasi bahwa aktivitas Semeru masih berpotensi membawa material vulkanik berbahaya ke bawah. Selain abu dan awan panas, guguran batu besar (balistik) juga menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat di sekitar aliran sungai.

Petugas biasanya mengimbau warga untuk menjauhi kawasan sungai saat terjadi erupsi atau hujan deras, karena aliran lahar dapat membawa batu-batu besar dengan kecepatan tinggi.

Meskipun aktivitas vulkanik tidak sejauh letusan besar, fenomena batu menyimpan panas hingga mengeluarkan asap menandakan energi guguran masih cukup kuat. Aparat desa dan relawan kebencanaan terus melakukan pemantauan di titik-titik rawan, khususnya sepanjang aliran sungai dari arah Semeru menuju permukiman.


Editor : Firda Rachmawati