BBKSDA Ungkap Penyebab Kematian 2 Anak Harimau di Kebun Binatang Bandung
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat akhirnya mengungkap hasil penyelidikan kematian dua ekor anak harimau Benggala.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat akhirnya mengungkap hasil penyelidikan kematian dua ekor anak Harimau Benggala koleksi Kebun Binatang Bandung bernama Huru dan Hara.
Hasil pemeriksaan Huru dan Hara dinyatakan mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Ini merupakan penyakit yang sangat menular dan memiliki tingkat kematian tinggi pada satwa famili Felidae, khususnya pada usia muda.
Plt. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty menjelaskan pada akhir Maret 2026 kemarin, salah satu satwa yakni Hara itu menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare.
Dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya parasit cacing pada muntahan, sehingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin.
"Sebagai langkah antisipasi, Harimau Huru yang berada dalam satu kandang juga diberikan vitamin dan obat cacing, serta kedua satwa kemudian dipisahkan kandangnya untuk mencegah penularan," kata Ammy, dalam keterangannya, Minggu (29/3/2026).
Pihaknya selanjutnya berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, serta tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat untuk penanganan bersama.
"Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan terpadu bersama tim medis dan instansi terkait. Berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal, termasuk pemisahan kandang dan pemberian terapi intensif," jelasnya.
Pada 23 Maret, kondisi Hara dilaporkan menurun dengan gejala klinis berupa diare disertai darah.
Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan menggunakan rapid test Feline Panleukopenia Virus (FPV) dari sampel feses dan menunjukkan hasil positif. Tim medis segera melakukan penanganan intensif berupa terapi simtomatik dan suportif.
Namun demikian, pada 24 Maret pukul 09.14 WIB, Harimau Hara dinyatakan mati.
Hasil nekropsi menunjukkan adanya perdarahan masif pada saluran pencernaan, kerusakan vili-vili usus yang merupakan ciri khas infeksi FPV, serta ditemukan parasit cacing pada usus.
Selanjutnya, pada 25 Maret dilakukan pemantauan dan penanganan intensif terhadap Harimau Huru yang menunjukkan gejala serupa.
Kondisi Huru sempat melewati fase kritis dan menunjukkan perbaikan. Namun pada tanggal 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB, Harimau Huru dinyatakan mati.
"Hasil nekropsi menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan, serta hasil uji test kit menunjukkan positif Feline Panleukopenia Virus (FPV)," terangnya.
Berdasarkan rangkaian pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan, Ammy menyimpulkan bahwa kedua anak Harimau tersebut mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Feline Panleukopenia Virus (FPV) merupakan penyakit yang sangat menular pada satwa famili Felidae baik domestik maupun liar, termasuk Harimau.
"Virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara (fomite). Pada satwa muda yang sistem kekebalannya belum berkembang sempurna, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi," paparnya.
Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jabar bersama pengelola kebun binatang akan meningkatkan langkah biosekuriti, melakukan desinfeksi lingkungan secara intensif, memperketat pengawasan lalu lintas orang dan peralatan, serta meningkatkan pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora, khususnya dari famili Felidae.***
Editor : JakaPermana

