Benih Padi Hibrida Menjanjikan tapi Petani Belum Melirik
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Kabupaten Subang, selama ini selama ini diberi tanggung jawab oleh Kementerian Pertanian untuk menciptakan inovasi baru di sektor pertanian. Salah satunya, menciptakan bibit padi unggulan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Subang – Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Kabupaten Subang, selama ini selama ini diberi tanggung jawab oleh Kementerian Pertanian untuk menciptakan inovasi baru di sektor pertanian. Salah satunya, menciptakan bibit padi unggulan.
Tujuannya, tak lain untuk menggenjot produktivitas pertanian secara nasional. Tak heran, sejauh ini BB Padi Sukamandi telah meluncurkan sejumlah varietas unggulan benih padi yang di antaranya telah digunakan oleh para petani. Salah satunya, yakni jenis padi hibrida.
Sayangnya, sampai saat ini pemanfaatan padi hibrida di kalangan petani masih belum maksimal. Padahal, benih padi hibrida ini cukup potensial untuk menggenjot produktifitas. Karena, rata-rata hasil produksinya lebih dari 12 ton per hektarenya.
Kepala BB Padi Sukamandi, Kabupaten Subang, Priatna Sasmita menjelaskan, padi hibrida ini memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya, potensi hasil yang lebih tinggi dibanding padi inbrida. Karena itu, pemerintah berupaya membuat terobosan pengembangan benih padi hibrida ini. Tujuannya, untuk mendongkrak peningkatan hasil produksi.
“Jika hasil produksinya tinggi, maka petani akan diuntungkan,” ujar Priatna, kepada INILAH, belum lama ini.
Dia pun tak menampik, jika perkembangan industri benih padi hibrida di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari yang diharapkan. Padahal, benih padi ini telah dikembangkan sejak 2003 silam. Tetapi, petani yang memanfaatkan benih ini terbilang masih sedikit.
Dia menuturkan, berdasarkan pengamatan pihaknya minat inovasi industri benih hibrida masih rendah. Selain itu, sumber daya penangkar juga masih belum sebanding dengan kebutuhan. Tak hanya itu, petani menilai ketidakmurnian genetik tetua padi hibrida. Serta selisih keuntungan produksi benih padi hibrida yang kecil.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi faktor penyebab rendahnya tingkat adopsi padi hibrida. Tak hanya itu, harga benih padi hibrida jauh lebih mahal dibanding benih inbrida. Sebab, harga benih padi hibrida mencapai Rp 130 ribu per kilogram. Sedangkan, padi inbrida hanya Rp 10 ribu per kilogramnya.
“Tetapi, provitas padi hibrida ini cukup tinggi,” ujarnya.
Meski begitu, sejumlah petani yang sudah merasakan keuntungan menanam padi hibrida bersedia membeli berapapun harga benih yang ditawarkan. Seperti, petani di Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung, yang sudah konsisten menggunakan benih padi hibrida ini.
Menurut petani yang sudah merasakan, keuntungan yang diperolehnya antara 20 sampai 30 persen dibanding penanaman padi inbrida. Karena itu, pihakya mengklaim memberikan dukungan serius dalam penelitian dan pengembangan padi hibrida di Indonesia. (Asep Mulyana)
Editor : Bsafaat

