BI Jabar: Dampak Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi Q1/2020 Diperkirakan Melambat
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar Herawanto mengatakan, kondisi Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan akibat merebaknya Covid-19. Pandemi virus corona itu diakuinya mengganggu kinerja perekonomian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar Herawanto mengatakan, kondisi Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan akibat merebaknya Covid-19. Pandemi virus corona itu diakuinya mengganggu kinerja perekonomian.
Menurutnya, di Jawa Barat dampak jangka pendek terlihat pada Maret ini dengan menurunnya kegiatan perdagangan, hotel, restoran, rekreasi, serta terbatasnya aktivitas industri dan sejumlah sektor lainnya.
"Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat kuartal I/2020 dapat lebih rendah dari perkiraan semula, dari kisaran 4,1%-4,5% (yoy) menjadi pada rentang 3,7%-4,1%, dan keseluruhan tahun 2020 diperkirakan jauh lebih rendah dari rata-rata historisnya," kata Herawanto, Jumat (27/3/2020).
Selain itu, perkembangan ekspor dan impor Jawa Barat pada awal 2020 pun mulai terimbas. Pada Januari 2020, kinerja ekspor dan impor Jawa Barat mengalami perlambatan. Berdasarkan data BPS Jawa Barat, eskpor pada Januari 2020 turun sebesar 8,54% (yoy), terutama terjadi pada industri utama Jawa Barat, yakni elektronik, TPT dan otomotif. Sementara, impor pada Januari 2020 juga tercatat turun sebesar 7,90% (yoy) akibat terhambatnya pasokan barang raw material dari Cina dan permasalahan pengiriman ekspor akibat outbreak Covid-19 di negara-negara tujuan ekspor.
Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga mempengaruhi tingkat inflasi di Jawa Barat. Inflasi Jawa Barat pada 2020 secara keseluruhan diperkirakan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2019. Inflasi Jawa Barat pada Januari dan Februari relatif cukup tinggi yang disumbang kenaikan harga komoditas pangan terutama bawang putih.
Selain itu, kenaikan cukai tembakau dan kenaikan tarif angkutan online, turut mendorong inflasi 2020. Pandemi Covid-19 juga menyebabkan ketidakpastian yang sangat tinggi dan menurunkan kinerja pasar keuangan global, menekan banyak mata uang dunia termasuk rupiah serta memicu pembalikan modal kepada aset keuangan yang dianggap aman seperti emas.
Herawanto menuturkan, guna mendukung upaya penanggulangan Covid-19 pihaknya berupaya keras untuk pengendalian inflasi. Untuk itu, KPwBI Jabar mendorong pemerintahan daerah dan aparat penegak hukum untuk meningkatkan kegiatan inspeksi lapangan dalam rangka memastikan ketersediaan pasokan. Selain itu, optimalisasi sistem informasi dalam memonitor harga pangan di pasar tradisional maupun pasar modern, bekerja sama dengan pemerintahan daerah menyelenggarakan operasi pasar kebutuhan pokok masyarakat melalui saluran distributor/agen besar untuk menghindari kegiatan yang menarik massa.
Terkait sistem pembayaran, dia mengaku pihaknya menyediakan ketersediaan uang layak edar yang higienis, layanan kas dan backup layanan kas alternatif, serta menghimbau masyarakat agar lebih banyak menggunakan transaksi pembayaran secara nontunai. Penyesuaian jadwal kegiatan operasional sistem pembayaran dan layanan publik yang berlaku sejak 30 Maret–29 Mei 2020 sebagaimana siaran Pers BI No. 22/24/DKOM.
"Kita pun mendukung penyaluran dana nontunai program-program pemerintah seperti Program Bantuan Sosial PKH dan BPNT, Program Kartu Prakerja, dan Program Kartu Indonesia Pintar-Kuliah sebagai stimulus fiskal yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani

