INILAH, Ngamprah - Jeli melihat peluang, Agus Suherman banting setir dari usaha budidaya tanaman anggrek menjadi perajin pot bunga berbahan kayu.
Alhasil, setelah empat tahun menggeluti bisnis ini, pria 47 tahun tersebut sudah berhasil mendapat omzet antara Rp20 juta hingga Rp 40 juta per bulan.
Agus menceritakan, awalnya ia hanya coba-coba membuat berbagai jenis kerajinan pot berbahan kayu, utamanya pot bunga. Padahal, bisnis tanaman anggrek di sekitar rumahnya yang berada di kawasan Lembang sedang naik daun.
"Lembang kan salah satu daerah sentra bunga, malah ada beberapa tempat wisata bunga. Tetapi saya melihat kebanyakan pot bunga yang dipajang masih polos, pot berwarna hitam," kata Agus di bengkelnya, di Kampung Sukamanah, RT 3 RW 11, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Bandung Barat, Jumat (1/3/2019).
Agus mengaku tidak punya pengalaman membuat pot dari kayu karena dirinya hanya lulusan SMK Pertanian di Subang. Namun berkat ketekunan, lama-kelamaan, keahlian bapak dua anak ini semakin terasah dalam membuat berbagai jenis dan ukuran pot bunga.
"Saya belajar otodidak bikin pot di rumah, lama-lama jadi terasah. Coba dijual di tempat wisata, alhamdulillah ternyata laku, semakin ke sini, jadi semakin berkembang. Bukan cuma pot bunga, tapi bermacam-macam kerajinan dari kayu atau batok kelapa," tuturnya.
Menurutnya, jenis kayu jati belanda jadi pilihan untuk dibuat pot karena memiliki serat kayu alami yang lebih indah dipandang. Melihat prospek yang lebih menjanjikan, Agus akhirnya meninggalkan usaha budidaya tanaman anggrek yang lebih dulu digeluti.
"Dari anggrek, sebenarnya keuntungannya bisa lebih besar asal bisa serius mengurusnya, tapi kendalanya perputaran uangnya lebih lama. Soalnya baru bisa dijual sebulan ke depan. Beda dengan kerajinan kayu, uangnya bisa lebih cepat didapat," ungkapnya.
Selain menjual di tempat wisata, Agus juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan berbagai produk yang dihasilkannya. Hasil karyanya kini telah merambah hingga berbagai daerah seperti Jogjakarta, Malang, Surabaya, Bali, Lombok, hingga Aceh.
"Yang paling banyak dijual memang pot bunga, tapi ada juga buat parcel, lukisan, decoupage, rak, meja, kursi, photo booth, display toko, tempay pakaian, tempat perhiasan, sampai mainan anak," bebernya.
Harga yang ditawarkan Agus bervariasi, tergantung jumlah bahan yang digunakan dan tingkat kerumitan dalam proses pembuatannya, mulai dari Rp22.500 hingga Rp500 ribu. Selain bisa menghidupi keluarganya, Agus berhasil membuka peluang pekerjaan bagi warga sekitar yang dijadikan pegawainya.
"Omset saat ini rata-rata sampai Rp20 juta hingga Rp 40 juta per bulan. Kalau untuk pesanan keluar kota biasanya melalui online. Tapi untuk di sekitar Bandung bisa datang ke gerai saya di RupaRupi Handycraft Market," ujarnya.