BNPB Sebut 3 Kabupaten Paling Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

BNPB menyebut Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang menjadi tiga kabupaten paling terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

BNPB Sebut 3 Kabupaten Paling Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
istimewa

INILAHKORAN.ID-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut tiga kabupaten menjadi wilayah paling terdampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, yakni Lampung-selatan'>Lampung Selatan dan Tanggamus di Provinsi Lampung serta Pandeglang di Provinsi Banten.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pemantauan terhadap wilayah terdampak abu vulkanik terus dilakukan bersama pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait.

"Dalam hal ini termasuk Kementerian Kesehatan yang mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit," kata Berton di Jakarta, Senin.

Tiga Wilayah Paling Terdampak abu vulkanik GAK

Tiga kabupaten yang menjadi perhatian BNPB yakni Lampung-selatan'>Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang.

BNPB bersama pemerintah daerah terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan perlindungan seperti masker dan kacamata.

Warga juga diminta segera membersihkan diri setelah kembali dari luar rumah untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Selama wilayah masih terpapar abu, masyarakat diimbau lebih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah.

Apabila mengalami gangguan pernapasan, masyarakat diminta segera mendapatkan pelayanan kesehatan.

Puskesmas di Wilayah Terdampak Disiagakan

Menteri Kesehatan telah menginstruksikan kesiapsiagaan puskesmas di daerah yang terdampak abu vulkanik.

Pemerintah juga mengantisipasi kemungkinan kebutuhan untuk mengaktifkan pos komando kesehatan atau Health Emergency Operation Centre (HEOC) apabila kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik, khususnya terhadap saluran pernapasan, mata, dan kulit.

abu vulkanik GAK Ganggu Penerbangan

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga berdampak terhadap operasional penerbangan.

Otoritas bandara bersama Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan serta sebaran abu vulkanik.

Material vulkanik tersebut dapat membahayakan keselamatan penerbangan sehingga operasional bandara disesuaikan dengan kondisi terkini.

Setidaknya hingga Minggu (6/9) pukul 13.00 WIB, terdapat enam bandara yang masih ditutup sementara akibat dampak abu vulkanik.

Keenam bandara tersebut yakni Bandara Soekarno-Hatta dan Budiarto di Tangerang, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur, Radin Inten II di Lampung, serta Husein Sastranegara di Bandung.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penutupan sementara Bandara Husein Sastranegara dilakukan setelah pengecekan kondisi wilayah bandara.

Bandara tersebut ditutup sementara pada Sabtu (6/9) pukul 12.00 WIB untuk memastikan keselamatan penerbangan.

"Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan," katanya.

Informasi Penerbangan Diperbarui Setiap Empat Jam

Kementerian Perhubungan bersama pihak terkait akan terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Pemutakhiran informasi dilakukan setiap empat jam untuk menentukan kondisi operasional penerbangan.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan keputusan pembukaan maupun penutupan bandara tetap berdasarkan kondisi lapangan dan aspek keselamatan.

Penyeberangan Selat Sunda Masih Beroperasi

Sementara itu, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau belum memberikan dampak signifikan terhadap transportasi laut.

Penyeberangan melalui Selat Sunda masih dapat dilakukan.

Meski demikian, otoritas pelabuhan diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan memperbarui informasi terkait kondisi keamanan serta keselamatan pelayaran.

Masyarakat yang menggunakan transportasi laut juga diimbau menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan abu vulkanik.

Pengelola pelabuhan diminta terus berkoordinasi dengan pihak terkait apabila terjadi perubahan kondisi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.***


Editor : JakaPermana