Bogor, dari Kota Hujan ke Kota Tawuran
Bogor kini tak lagi hanya kota hujan. Kini, dia patut pula disebut sebagai kota tawuran, terutama remaja. Bulan ini saja, sedikitnya empat kali terjadi tawuran antara remaja di sana.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor – Bogor kini tak lagi hanya kota hujan. Kini, dia patut pula disebut sebagai kota tawuran, terutama remaja. Bulan ini saja, sedikitnya empat kali terjadi tawuran antara remaja di sana.
Dua peristiwa teranyar terjadi pada Minggu (9/2) dinihari. Salah satu di antaranya menelan korban. Akibat tawuran di Jalan Pandu Raya, Kecamatan Bogor Utara, MZ (16) meregang nyawa.
MZ diserang beberapa remaja yang menggunakan celurit. Saat itu, MZ sedang menunggang motor dengan memboncengi kakaknya, R (17).
“Betul, ada kejadian tawuran menjelang subuh. Satu korbannya meninggal dunia,” kata Kapolsek Bogor Utara, AKP Ilot Juanda, Minggu (9/2).
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 04.30 WIB. MZ yang memboncengi R, sedang berkonvoi bersama dengan rekan-rekannya sebanyak tiga motor. Tiba-tiba, entah dari mana, muncul sekelompok remaja bermotor yang menyerang mereka.
MZ sempat panik akibat serangan itu. Motor yang dikendarainya oleng dan terjatuh. MZ dan kakaknya terpisah untuk menyelamatkan diri masing-masing. Namun para pelaku terus mengejar hingga akhirnya terjadi penganiayaan terhadap MZ.
“Kami dapat laporan dari pihak RS PMI sekitar jam 04:30 WIB yang menyatakan ada korban luka. Kami datangi kemudian, ternyata benar informasi itu. Kami langsung cek lokasi dan lakukan penyelidikan,” ucap Ilot Juanda.
R menyebutkan adiknya MZ menjadi sasaran tikaman celurit dari gerombolan remaja lainnya itu. “Saya yang dibonceng, adik saya yang bawa motornya. Adik saya yang kena, dicelurit,” ujarnya.
R menyebut, ia dan adiknya sempat terjatuh dari motor karena panik dikejar kelompok lawan yang jumlahnya lebih banyak.
R yang terpisah dengan sang adik, mengaku sempat berduel dengan remaja dari kelompok lawan. Namun karena kalah jumlah, R kemudian melarikan diri dan berpisah dengan adiknya. Teman-teman R yang juga berada di lokasi juga menyelamatkan diri.
Polisi masih mendalami peristiwa ini. Beberapa orang sudah dimintai keterangan untuk mencari pelaku penyerangan.
“Kami masih lakukan penyelidikan. Empat saksi sudah kami mintai keterangan, sedang kami dalami. Barang bukti, setelah kami lakukan penelusuran di TKP, kami temukan dua celurit,” tambah Ilot.
Hanya sekitar 1,5 jam sebelumnya, tawuran antar kelompok remaja yang menggunakan senjata tajam juga terjadi di Jalan Soleh Iskandar, Kecamatan Tanah Sareal. Seorang remaja berinisial Z terluka di bagian tangan akibat terkena celurit.
Sebelumnya, hanya dalam rentang waktu sepekan, dua kasus tawuran juga terjadi di Kota Bogor. Akibatnya, seorang pelajar tewas dan empat lainnya luka berat.
Pada Selasa (21/1) malam, tawuran terjadi di kolong jembatan Tol Jagorawi, tepatnya di Jalan Tumenggung Wiradireja, Kelurahan Cimahpar, Bogor Utara. Tiga pelakar SMK terluka, yakni ENH (18) luka di bagian tangan kiri, MRH (16) luka di pinggang kanan, dan WA (17) luka pinggang belikat dan tangan kanan putus.
Empat hari berselang, pelajar salah satu SMA di Kota Bogor, DA (17) tewas dalam tawuran yang berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB. Rekannya, JA, ikut terluka dalam tawuran di Jalan RE Martadinata, Bogor Tengah, itu.
Maraknya tawuran pelajar dan remaja membuat DPRD meminta Pemerintah Kota Bogor segera mengantisipasi kejadian serupa. DPRD juga kecewa awal tahun 2020 ini mencoreng predikat Bogor sebagai kota ramah anak.
Anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan Kota Bogor, Atty Somaddikarya mengatakan, menjadi catatan hitam di awal tahun 2020 ini, Kota Bogor yang disebut kota ramah anak terjadi berkali-kali aksi tawuran antar pelajar.
“Ini menjadi tanggung jawab kita semua. Kita harus duduk bersama dengan dinas-dinas terkait, muspida, muspika, dan tentunya legislatif. Harus ada pembinaan dan sanksi tegas bagi sekolah-sekolah jika siswanya terliibat tawuran,” kata Atty.
Atty melanjutkan, karakter pelajar seperti preman sudah tidak zamannya lagi saat ini. Harusnya pelajar mengadu gagasan dengan otak yang cerdas, bukan dengan otot plus senjata tajam.
“Mau dibawa ke mana generasi bangsa ke depannya jika perilaku sudah mengarah pada jiwa pembunuh dan darah mengalir di aspal tanpa belas kasihan. Itu risiko yang akan dihadapi apabila tawuran terus,” tambahnya. (rizki mauludi/ing)
Editor : Bsafaat

