BRIN Kembangkan Kandidat Vaksin Pasif Covid-19 Berteknologi Nuklir

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset dan Teknologi Nuklir Terapan (PRTNT) mengembangkan inovasi vaksin pasif Covid-19

BRIN Kembangkan Kandidat Vaksin Pasif Covid-19 Berteknologi Nuklir
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Agus Sumaryanto

INILAHKORAN, Bandung - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset dan Teknologi Nuklir Terapan (PRTNT) kini mengembangkan inovasi terkait vaksin pasif Covid-19.

Untuk itu, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan PT Tekad Mandiri Citra menyelesaikan uji praklinis terhadap antibodi kuning telur ayam (IgY) yang digadang-gadang menjadi vaksin pasif Covid-19.

Kepala ORTN Agus Sumaryanto mengatakan, untuk menekan pertambahan kasus Covid-19 ini pemerintah berupaya memberikan vaksin guna menciptakan kekebalan tubuh atau antibodi. Sebagai alternatif penanganan Covid-19, IgY merupakan antibodi spesifik yang dapat berikatan dengan virus dan mencegah menempelnya virus pada reseptor inang.

IgY diakuinya telah lama diteliti dan diaplikasikan pada diagnostik maupun terapi penyakit di hewan ternak dan juga manusia. Bahkan, IgY juga diketahui dapat menetralisasi virus SARS. Agus menuturkan, uji praklinis terhadap IgY merupakan keberhasilan para peneliti di lingkungan PRTNT bersama para mitranya dalam mencari solusi penanganan Covid-19.

Baca Juga: Jalan Panjang Pengembangan Energi Nuklir Nasional

“Capaian ini juga menjadi bukti bahwa teknologi nuklir mempunyai peran dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat khususnya dalam penanganan Covid-19,” kata Agus di Bandung, Rabu 3 November 2021.

Dia menjelaskan, BRIN akan terus mendukung dan memfasilitasi berbagai penelitian khususnya di bidang kesehatan yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Kolaborasi sesama peneliti dari dalam atau luar BRIN menjadi hal yang penting dalam mempercepat keberhasilan sebuah penelitian.

Sedangkan, peneliti PRTNT Hendris Wongso menyebutkan kegiatan uji praklinis terhadap IgY sebagai kandidat vaksin pasif Covid-19 telah dimulai sejak September 2020. Unpad bersama PT Tekad Mandiri Citra (TMC) telah berhasil memproduksi IgY spesifik sebagai antibodi Covid-19.

“IgY yang dihasilkan dalam telur ayam SAN (specific antibody negative) ini telah berhasil dimurnikan menggunakan metode kromatografi afinitas. Kemudian, IgY anti-Covid-19 ini juga telah terbukti dapat berinteraksi dengan antigen protein spike virus SARS-CoV-2 pada uji imunoreaktivitas,” jelas Hendris Wongso.

Baca Juga: Bapeten Akan Pasang 126 Detektor Radiasi Pantau Radiasi Nuklir

Dia menegaskan, adapun peran teknologi nuklir dalam uji praklinis IgY itu ditandai dengan senyawa radioaktif (I-131) yang sering disebut dengan radiolabeling. Usai diberi label dengan senyawa radioaktif lalu diujicobakan pada hewan percobaan dan selanjutnya dilakukan pengujian.

“IgY yang dilabeli kemudian diberikan kepada hewan percobaan, kemudian dilakukan pengujian dengan mengambil organ dari hewan tersebut dan diteliti untuk melihat seberapa besar antibodi tersebut menyebar di setiap organ,” lanjut Hendris Wongso.

Hasilnya, kata dia, menunjukkan IgY secara positif mampu terakumulasi pada organ-organ vital yang menjadi tempat penempelan virus SARS-CoV-2, sehingga diharapkan IgY dapat menetralisasi virus ketika terjadi infeksi. Karena itulah IgY sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi vaksin pasif Covid-19.

Baca Juga: Vaksin COVID-19 apa saja yang dipakai di Indonesia?

Hendris Wongso berharap, keberhasilan uji praklinis ini dapat bermanfaat untuk pengembangan vaksin pasif di Indonesia.

“Keberhasilan uji praklinis diharapkan mempercepat penanganan wabah Covid-19 di Indonesia melalui penyediaan vaksin pasif yang dapat menghambat replikasi virus pada orang yang terinfeksi,” harap Hendris Wongso.

“Pasien dapat sembuh lebih cepat tanpa menimbulkan keparahan yang menyertai Covid-19. Selain itu, penelitian ini juga menjadi landasan bagi pengembangan diagnostik dan terapeutik berbasis IgY untuk penyakit infeksi dan kanker di Indonesia. Lebih jauh, teknik nuklir dalam uji praklinis juga dapat diaplikasikan pada berbagai kandidat obat lainnya, selain antibodi IgY,” tutur Hendris Wongso.***(doni ramdhani)


Editor : inilahkoran