Bukan Cuma Sampah, ini Pekerjaan Rumah yang Harus Dirampungkan Pemkot Cimahi pada Tahun 2025

Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi masih dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah atau 'PR' yang tak kunjung bisa dirampungkan hingga saat ini.

Bukan Cuma Sampah, ini Pekerjaan Rumah yang Harus Dirampungkan Pemkot Cimahi pada Tahun 2025
Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi masih dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah atau 'PR' yang tak kunjung bisa dirampungkan hingga saat ini.

INILAHKORAN, Cimahi - Pemerintah Kota (pemkot) Cimahi masih dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah atau 'PR' yang tak kunjung bisa dirampungkan hingga saat ini.

Tak cuma itu, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Kecamatan Cimahi Selatan beberapa waktu lalu terungkap pengelolaan sampah berbasis komunitas serta program ketahanan pangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat masih belum dilakukan secara optimal.

Melihat kondisi tersebut, Penjabat (Pj) Wali Kota Cimahi Benny Bachtiar mendorong semua kelurahan dan RW agar aktif dalam pengelolaan sampah agar tercipta kebiasaan yang lebih baik di masyarakat.

Pasalnya, persoalan sampah di Kota Cimahi bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan bisa menjadi peluang untuk mendongkrak ekonomi masyarakat.

"Mengapa kita tidak menerapkan pengelolaan sampah di semua kelurahan dan RW di Cimahi?. Sosialisasi memang tidak mudah, tetapi jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan masyarakat bisa berubah," kata Benny belum lama ini.

Benny menilai, sampah yang dikelola dengan baik dapat bernilai ekonomis, baik melalui daur ulang maupun pemanfaatan untuk pertanian. 

Menurutnya, salah satu langkah konkret yang tengah didorong adalah memperluas program Kelompok Wanita Tani (KWT) guna meningkatkan ketahanan pangan.

"Melalui KWT, warga tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, tetapi juga memperoleh penghasilan tambahan dengan menjual hasil panennya," jelasnya.

"Sebagai contoh, di Kelurahan Cipageran, warga yang tergabung dalam KWT mampu menjual cabai rawit dengan harga lebih terjangkau, sekitar Rp20.000 per kg, dibanding harga pasar yang mencapai Rp80.000 per kg," sambungnya,

Benny optimistis, jika program ini diperluas, ketahanan pangan dan daya beli masyarakat Cimahi bisa meningkat secara signifikan.

"Selain isu sampah dan ketahanan pangan, terang Benny, infrastruktur menjadi perhatian utama dalam Musrenbang awal tahun ini," imbuhnya.

Sementara itu, Camat Cimahi Selatan, Ceppy Rustiawan menambahkan, pihaknya juga  penanganan banjir dan genangan air mendesak untuk segera ditangani agar tidak berdampak pada kesehatan dan aktivitas ekonomi warga.

"Sampah masih menjadi tantangan besar yang harus segera ditangani agar tidak berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan masyarakat," kata Ceppy.

Menurutnya, program "Cimahi Selatan Terintegrasi" tengah disiapkan untuk memperbaiki sistem drainase dan mencegah risiko banjir. 

Selain itu, pemerintah juga memprioritaskan penanganan kemiskinan ekstrem serta pencegahan dan penanganan stunting.

"Semua program ini tidak berdiri sendiri, tetapi harus saling berkaitan agar menciptakan solusi yang komprehensif," tegasnya.

Ceppy menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat dalam setiap proyek pembangunan sangat penting. 

"Dengan komunikasi dan sosialisasi yang baik, diharapkan masyarakat dapat memahami tujuan pembangunan serta berpartisipasi aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sejahtera," tandasnya. ***


Editor : JakaPermana