BPBD Cimahi Kekurangan 30 Personel, Penanganan Bencana Andalkan Relawan
BPBD Cimahi kekurangan 30 personel dari kebutuhan ideal 62 pegawai. Penanganan bencana tetap diperkuat melalui kolaborasi relawan dan masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam menjalankan tugas penanggulangan bencana. Saat ini, instansi tersebut hanya memiliki 32 pegawai organik, atau sekitar separuh dari kebutuhan ideal yang mencapai 62 personel.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi BPBD Cimahi dalam mengawal seluruh tahapan manajemen bencana, mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fithriandy Kurniawan mengakui, kekurangan sekitar 30 personel berdampak pada beban operasional pegawai yang ada.
"Kekurangan sekitar 30 orang personel ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kami, terutama dalam menunjang efektivitas seluruh tahapan penanganan, baik prabencana, tanggap darurat, maupun pemulihan pascabencana," ujar Fithriandy, Sabtu (7/11/2026).
Menurutnya, fase tanggap darurat dan pascabencana membutuhkan kesiapan fisik personel, kecepatan pengambilan keputusan, serta koordinasi lapangan yang intensif.
Dengan jumlah pegawai yang belum memenuhi kebutuhan ideal, beban kerja menjadi semakin besar, terutama ketika bencana berskala luas terjadi di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Cimahi.
"Dengan kekuatan yang hanya separuh dari standar ideal, beban operasional para pegawai organik menjadi berlipat ganda manakala bencana berskala masif melanda wilayah perkotaan berdensitas tinggi seperti Cimahi," ucapnya.
Meski demikian, Fithriandy menegaskan keterbatasan personel tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan publik maupun upaya perlindungan terhadap masyarakat.
Ia meminta seluruh jajaran tetap menjaga dedikasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
"Kekurangan bukan alasan untuk tidak maksimal. Kami ingin membuktikan bahwa tugas-tugas kemanusiaan dan penanggulangan bencana tetap terlaksana secara optimal," tegasnya.
Ketangguhan Masyarakat Cimahi Peringkat Kedua di Jabar
Di tengah keterbatasan SDM, Fithriandy menyebut tingkat ketangguhan masyarakat Kota Cimahi justru menunjukkan capaian positif di tingkat regional.
Berdasarkan data evaluasi kebencanaan provinsi yang disampaikannya, ketangguhan masyarakat Cimahi berada di peringkat kedua di Jawa Barat. Capaian tersebut disebut sejalan dengan indeks risiko bencana yang semakin menurun.
"Berdasarkan data evaluasi kebencanaan provinsi, tingkat ketangguhan masyarakat Cimahi berada di peringkat kedua di Jawa Barat, selaras dengan indeks risiko bencana yang kian menipis," sebutnya.
Fithriandy menilai capaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan BPBD, relawan tanggap bencana, masyarakat, serta unsur pentahelix lainnya.
Menurutnya, keberadaan relawan lokal menjadi salah satu penopang penting dalam menjalankan operasional penanggulangan bencana, terutama ketika jumlah pegawai organik belum mencukupi.
"Selama ini, kekosongan pos-pos operasional akibat defisit pegawai disokong secara signifikan oleh militansi para relawan lokal yang selalu siap siaga diterjunkan ke lapangan," ujarnya.
BPBD Cimahi Perkuat Kolaborasi Pentahelix
Ke depan, Fithriandy berharap pola kolaborasi pentahelix dalam penanggulangan bencana dapat terus diperkuat secara berkelanjutan.
Ia menilai, mitigasi dan penanganan bencana di wilayah perkotaan padat penduduk membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Upaya tersebut tidak dapat hanya mengandalkan satu institusi.
"Tapi menuntut kesadaran kolektif dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

